Museum Jenderal Nasution

Museum Jenderal Nasution

Museum Jenderal NasutionMuseum ini semula adalah kediaman pribadi dari Pak Nasution yang ditempati bersama dengan keluarganya sejak menjabat sebagai KSAD tahun 1949 hingga wafatnya pada tanggal 6 September 2000. Petugas dari Dinas Sejarah Mabes TNI AD melakukan perawatan diorama di Museum Jenderal Besar DR AH Nasution, Jakarta Pusat, Minggu (29/9/2013).

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila untuk mengenang korban dari peristiwa G30S/PKI yang juga merenggut nyawa putri Jenderal Besar Nasution, Ade Irma Suryani Nasution. Museum Abdul Haris Nasution atau tepatnya Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution adalah salah satu museum pahlawan nasional yang terletak di Jalan Teuku Umar No. 40, Jakarta Pusat, DKI Jaya, Indonesia.

Museum ini terbuka untuk umum dari hari Selasa hingga hari Minggu, dari pukul 08:00 hingga pukul 14:00 WIB. Setiap hari Senin museum ini ditutup untuk umum.

Sumber: Nonblok.com

Museum Taman Prasasti: Bekas Pemakaman yang Tidak Lagi Angker

Museum Taman Prasasti: Bekas Pemakaman yang Tidak Lagi Angker

SEBAGIAN dari Anda mungkin pernah mendengar Museum Taman Prasasti. Museum yang merupakan bekas pemakaman Belanda ini juga kerap digunakan sebagai lokasi pemotretan. Ini dikarenakan ada berbagai koleksi prasasti, nisan, makam, dan patung sebanyak 1.372 yang terbuat dari bahan batu dan perunggu.

Museum Taman Prasasti pada awalnya adalah pemakaman umum yang dididirikan pada akhir pemerintahan VOC tahun 1795 dengan nama Pemakaman Kerkhoof Laan. Kerkhoof Laan dimaksudkan sebagai pengganti kuburan di samping Gereja Nieuw Hollandsche Kerk (sekarang menjadi Museum Wayang ) dan Gereja Portugeesche Buitenkerk (sekarang Gereja Sion) yang saat itu sudah penuh terisi makam.

Dikatakan, Museum Taman Prasasti adalah satu-satunya museum dengan konsep outdoor karena hampir seluruh prasastinya tidak terlindung dari pengaruh cuaca.

Memasuki Museum Taman Prasasti, Anda akan disambut oleh taman yang bersih dengan pohon tinggi yang rindang. Tidak terasa keangkeran dari bekas lokasi pemakaman umum di sini malahan Anda akan melihat berbagai prasasti serta patung dengan gaya arsitektur Belanda yang unik.

Salah satu patung yang terlihat menarik ialah patung batu marmer Gadis Berduka yang menggambarkan seorang gadis sedang menangis dengan duka yang mendalam di wajahnya. Ada pula patung malaikat yang sedang berdoa.

Bukan itu saja, di tengah Museum Taman Prasasti juga terdapat bangunan berbentuk seperti Gereja Katedral yang terbuat dari bahan perunggu berwarna kehijauan. Selain peninggalan prasasti, terdapat pula kereta kuda pengangkut peti jenazah yang digunakan sejak 1825. Ada pula peti jenazah Presiden RI pertama Ir. Soekarno dan Wapres RI pertama Mohammad Hatta serta miniatur makam khas dari 33 provinsi di Indonesia.

Bagi penggemar fotografi, Museum Taman Prasasti menjadi surga di tengah hutan beton untuk menyalurkan bakat dan kreativitas seni fotografi. Bahkan, pembuatan beberapa video klip musik dibuat di museum ini dengan memanfaatkan nilai artistik tempat tersebut.

Belum pernah berkunjung, objek wisata Museum Taman Prasasti bisa Anda temukan di Jalan Tanah Abang 1/1 Kelurahan Petojo Selatan, Kecamatan Gambir Jakarta Pusat.

Harga tiket masuknya relatif murah yaitu Rp2.000 untuk dewasa, Rp1.000 untuk mahasiswa, dan Rp600 untuk anak-anak/pelajar. Waktu beroperasi museum ini pukul 09.00-15.00 WIB pada hari Selasa-Minggu, sedangkan Senin dan hari libur tutup. (wisatamelayu/*/X-13)

Merasakan Bencana Alam di Museum Tsunami Aceh

Merasakan Bencana Alam di Museum Tsunami Aceh

SEBAGAI upaya mengenang peristiwa tsumani Aceh tahun 2004 silam, didirikanlah Museum Tsunami Aceh. Arsitektur bangunannya merupakan gabungan rumah panggung khas Aceh dengan konsep escape building hill berupa bukit untuk evakuasi bencana tsunami.

Jika dilihat dari jauh, bangunan museum menyerupai kapal laut dengan cerobong. Museum berlokasi di Jalan Iskandar Muda, Banda Aceh.

Daya tarik utama museum adalah sebuah lorong sempit dimana pada kedua sisi dindingnya terdapat suara air yang bergemuruh seakan mengingatkan pada gelombang tsunami. Museum juga menampilkan simulasi elektronik gempa bumi Samudra Hindia 2004 beserta foto korban dan kisah dari mereka yang selamat.

Museum yang diresmikan pada Februari 2008 ini, juga difungsikan sebagai pusat pendidikan dan pusat evakuasi jika bencana tsunami terjadi lagi.

Konsep bangunan merupakan ide dari M. Ridwan Kamil, sang pemenang sayembara sekaligus Dosen Arsitektur Institut Teknologi Bandung, yakni Rumoh Aceh as Escape Hill.

Museum memiliki 2 tingkat. Lantai 1 merupakan area terbuka yang berfungsi sebagai tempat untuk mengenang peristiwa tsunami. Terdapat ruangan-ruangan berisikan hal-hal terkait kejadian tsunami 2004, seperti foto, artefak jejak tsunami, dan diorama (miniatur) kapal nelayan yang diterjang gelombang tsunami.

Sementara pada lantai 2 terdapat media pembelajaran seperti perpustakaan, ruang alat peraga, ruang 4D, ruang lukisan bencana, serta souvenir shop dan café. (indonesia.travel/*/X-13)

Ayo Tambah Pengetahuan di Museum Gedong Arca

Ayo Tambah Pengetahuan di Museum Gedong Arca

BALI juga menjadi destinasi yang sarat akan sejarah dengan adanya keberadaan museum yang jumlahnya tak sedikit. Salah satunya Museum Arkeologi atau yang lebih dikenal sebagai Gedong Arca. Bangunan museum terbilang artistik dan sangat mencerminkan nuansa Bali.

Museum resmi berdiri pada tanggal 14 September 1974. Lokasinya berada di Desa Pejeng, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Kawasan museum dipenuhi pepohonan hijau, kolam teratai dan bunga anggrek.

Halaman Museum Gedong Arca mengikuti pola bangunan pura yang terdiri dari halaman luar (jaba sisi), halaman tengah (jaba tengah), dan halaman dalam (jeroan). Pada halaman tengah terdapat lima gedung yang berfungsi sebagai ruang pameran.

Koleksi museum terbagi menjadi dua kelompok, yakni benda cagar budaya (BCB) dari masa prasejarah dan masa sejarah.

Salah satu koleksi istimewa museum adalah Sarkofagus atau palungan yang ditata berdasarkan kelompok menurut lokasi penemuan dalam balai kecil yang artistik. Sebagian palungan berbentuk trapesium dan kura-kura.

Sarkofagus merupakan peti batu yang berfungsi sebagai wadah kubur pada masa prasejarah. Umur koleksi tersebut diperkirakan 2.000-2.500 tahun. Arca Ganesha, sang pelindung seni dan ilmu pengetahuan, juga termasuk salah satu koleksi di Gedong Arca. (museumindonesia.com/*/X-13)

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Sentuhan Budaya di Bumi Sriwijaya

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Sentuhan Budaya di Bumi Sriwijaya

Catatan perkembangan Kota Palembang terkuak di sini. Tak ketinggalan, sisi budaya masyarakat ikut membantu pengunjung mengenal tanah Sriwijaya.

Bangunan dengan padupadan gaya Eropa dan tradisional rumah limas khas Palembang itu masih tampak kokoh berdiri, tak jauh dari Sungai Musi, dan dekat kawasan Benteng Kuto Besak. Didirikan pada 1823 dan selesai 1825 di masa pemerintahan kolonial Belanda. Bangunan dua lantai ini berfungsi sebagai rumah dinas residen Belanda.

Sebelumnya, menurut kisah sejarah, keberadaan gedung tersebut merupakan keraton yang dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo sekitar 1737. Namun, setelah kekalahan perang dialami pasukan Sultan, Belanda menghancurkan keraton agar tidak ada lagi sisa-sisa peninggalan kesultanan.

Selepas penjajahan Belanda, gedung tersebut tidak lagi menjadi rumah dinas, melainkan tiga kali berubah fungsi sebagai markas Jepang, lalu, teritorium II Kodam Sriwijaya diawal kemerdekaan, hingga akhirnya menjadi museum dibawah pengelolaan Pemerintah Kota Palembang. Dan, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II atau SMB II inilah yang menjadi fokus penjelajahan Kunjung Museum edisi ini.

Sebelum melangkah masuk menelusuri sudut demi sudut ruang, pengunjung diharuskan melewati tangga setengah melingkar, terdapat di bagian luar bangunan inti. Saat tiba di pintu masuk museum, sebuah lukisan besar bergambar sosok Sultan Mahmud Badaruddin II terpajang dalam bingkai, serta merta siap menyambut kedatangan para pengunjung.

Travel Club pun diajak berkeliling melihat sejarah peradaban kota pempek itu bersama pemandu museum. Di ruang pertama, pengunjung akan menemukan ruang pamer masa Sriwijaya. Ruangan ini menceritakan awal lahirnya Sriwijaya, mulai dari penemuan nama Sriwijaya, berkembangnya kerajaan, hingga keberadaan pendeta Buddha dari Cina, I-tsing yang belajar tata bahasa Sansekerta di Sriwijaya.

Kemudian, dilanjutkan ke ruang Pra Kesultanan, ruang Masa Kesultanan Palembang, Masa Kolonialisme Belanda di Palembang, serta ruang Daur Hidup berisi benda-benda berkaitan dengan tradisi orang Palembang dalam menyiapkan peristiwa penting yang perlu diperingati, seperti kelahiran, khitanan, pernikahan dan kematian. Selain itu, terdapat juga koleksi alat musik jidur, musik tradisional yang terkenal di Sumatera Selatan.

Dari sekian banyak ruang pamer di museum tersebut, total keseluruhan koleksinya ada 566 buah. Dengan perincian sebagai berikut, koleksi arkeologika sebanyak 10 buah, etnografika sebanyak 209 buah, numismatika ada 173 buah, biologika 15 buah, keramalogika 117 buah, seni rupa 6 buah, filologika 9 buah, historika 23 buah.

Seluruh koleksi merupakan perwujudan Palembang dari masa ke masa. Termasuk didalamnya terdapat Gelumpai, tidak lain adalah naskah kuno ditulis dengan huruf ‘ULU’ diatas potongan bambu. Lalu, arca Budha Siguntang iuga menarik untuk dilihat.

Museum SMB II memang lebih banyak menyimpan peninggalan masa lampau dari sisi etnografika. Jadi, pengunjung bisa mengenal lebih jauh seperti apa budaya tradisional masyarakat Palembang.

Nah, bila Anda sedang berada di Palembang, jangan lupa untuk singgah di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan nikmati sejuta pesona Sriwijaya dari dekat.

Lokasi museum
JI. Sultan Mahmud Badaruddin II No. 2 Palembang
Telp. (0711) 358450

Jadwal kunjung
Senin-Jumat Pukul 08.00-16.00 WIB
Sabtu-Minggu Pukul 08.30-16.00 WIB

Tiket
Umum: Rp. 2.000
Pelajar: Rp. 1.000,-

Sumber: Majalah Travel Club