Pesona Danau Ranau, Danau Terbesar Kedua di Sumatera

Pesona Danau Ranau, Danau Terbesar Kedua di Sumatera

danau ranauSelain Danau Toba, Pulau Sumatera juga punya Danau Ranau, danau terbesar kedua di Sumatera. Tidak hanya luas dan indah, udara di sekitar danau juga sangat sejuk. Ayo bertualang ke sana akhir pekan ini.

Danau Ranau ini merupakan danau terbesar kedua di Pulau Sumatera. Lokasi Danau Ranau ini terletak di perbatasan Lampung Barat, Provinsi Lampung dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. Rute yang kami pilih melalui Palembang-Prabumulih-Baturaja-Muaradua, dengan total perjalanan 7-8 jam.

Namun, jika wisatawan berasal dari Pulau Jawa atau dari Lampung menuju Danau Ranau, bisa menggunakan rute Bandar Lampung-Kota Bumi-Bukit Kemuning-Liwa-Kotabatu-Sukamarga atau Banding Agung. Perjalanan dari Bandar Lampung menuju Danau Ranau kurang lebih 6-7 jam.

Track yang kami jalani relatif mudah menantang. Kondisi menantang ketika kami mulai memasuki kawasan hutan lindung, dimana kondisi jalannya sangat kecil walaupun sudah diaspal. Dengan keadaan alam hutan di kanan kiri yang pepohonannya cenderung merunduk ke arah jalan, akan sangat rawan longsor. Jika longsor, maka akses akan secara otomatis tertutup.

Tepat Pukul 17.00 WIB kami tiba di villa milik PT Pusri yang terletak persis di sebelah Danau Ranau. Suhu saat itu sekitar 16 derajat, dingin. Nampaknya ini satu-satunya villa yang ada tepat di pinggir Danau Ranau. Sebenarnya ada villa atau penginapan lain, namun lokasinya di atas. Ratenya antara Rp 175 ribu-400 ribu.

Kegiatan yang bisa dilakukan di Danau Ranau adalah berenang dan mandi di pemandian air panas. Untuk anak-anak bisa bermain di waterboom yang langsung berada di tepi Danau Ranau.

Untuk menuju pemandian air panas dibutuhkan waktu 20 menit dengan menggunakan perahu carteran yang diberangkatkan dari dermaga tempat kami menginap, dan biaya sekitar Rp 50 ribu. Sama dengan harga tiket masuk ke waterboom. Namum dalam traveling kami, kali ini memilih waterboom dikarenakan kedaan pemandian air panas sedang tidak oke saat itu.

Sumber: detikcom

Bebatuan Unik di Gunung Api Purba, Yogyakarta

Bebatuan Unik di Gunung Api Purba, Yogyakarta

Gunung Api PurbaAda suatu objek wisata menarik di Gunungkidul, DI Yogyakarta. Di sana terdapat Gunung Nglanggeran atau yang biasa disebut Gunung Api Purba. Bebatuan di sana sungguh unik, ukurannya yang beragam seolah membawa Anda ke zaman purba!

Kawasan ekowisata Gunung Api Purba yang terletak di Daerah Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul ini memang sangat menantang untung dikunjungi. Udara yang masih sangat sejuk, menambah semangat untuk menjelajahinya.

Perjalanan saya kali ini ke Gunung Api Purba berawal dari rasa penasaran, karena namanya yang cukup unik dan menarik. Saya pun mencoba untuk mencari lokasi dan akhirnya sampai juga di sana.

Kesan pertama kali ketika sampai di sana adalah keren banget! Bebatuan yang tersusun dan membentuk seperti gunung tampak mengagumkan. Saya juga menemukan banyak bentuk batu-batu unik dengan ukuran yang sangat besar. Warna-warna batu yang bervariasi juga membuat saya tidak berhenti untuk mencari hal-hal unik lainnya yang berada di sana.

Semangat yang mengalahkan rasa lelah membuat saya terus berjalan mendaki dan menyusuri pepohonan dan bebatuan. Ada banyak hal yang menarik ketika saya mulai menyusuri tempat ini, melewati jalan sempit dan menanjak yang cukup sulit di lewati. Namun tidak usah khawatir, karena di sana telah di sediakan tangga kecil untuk membantu perjalanan menjadi lebih mudah.

Setelah perjalanan yang cukup seru, saya kembali dikejutkan dengan panorama indah ketika berada di atas bebatuan. Dari atas, saya dapat melihat hampir seluruh pemandangan yang sangat menakjubkan dengan angin yang cukup kencang. Itu tidak membuat saya ragu untuk tetap berdiri di atas sana.

Pemandangan ini akan lebih bagus apabila dinikmati pada saat sunset ataupun sunrise, terlihat sangat indah. Ini aalah salah satu hal yang membuat saya bersyukur berada di negeri sendiri dengan segala keindahan dan kekayaannya.

Sumber: detikcom

Eksotisme Tanah Lot

Eksotisme Tanah Lot

HAMPIR setiap pura atau objek wisata religi di Bali mudah dikunjungi wisatawan. Tapi untuk yang satu ini, tidak dapat diakses oleh pengunjung.

Tanah Lot adalah salah satu pura terpenting di Bali yang terletak di atas bongkahan batu dan tebing. Meski hanya bisa disaksikan dari luar dan seberang laut, Tanah Lot memiliki pemandangan yang spektakuler.

Menurut legenda, dua pura di Tanah Lot dibuat oleh seorang brahmana Danghyang Nirartha pada abad ke-16. Ia berhasil menguatkan ajaran Hindu di Bali. Uniknya lagi, Danghyang mengubah selendangnya menjadi ular yang bertugas menjaga tempat ini.

Jika Anda ingin ke Tanah Lot, berjalanlah Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan. Di lokasi ini, setiap turis dan pengunjung lainnya bisa bersantai di waktu sore untuk menyaksikan matahari terbenam (sunset).

Nah, bagi Anda yang ingin berbelanja, di sekitar pura ini juga terdapat banyak toko suvenir dan kafe. Juga tersedia toilet bersih yang harga sewanya cukup murah untuk kantong wisatawan domestik sekalipun. (wikipedia/*/X-13)

Terpesona di Pulau Derawan

Terpesona di Pulau Derawan

SALAH satu keindahan alam nusantara yang jauh dari keramaian pengunjung dan seakan nampak tak terjamah adalah Pulau Derawan. Lokasinya terletak di Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya Kabupaten Berau dan berada di Selat Sulawesi, tak jauh dari perbatasan Malaysia.

Daya pikat akan hamparan pasir putih lembut yang nampak berkilat serta kejernihan air lautnya, menjadikan Pulau Derawan sebagai pilihan yang tepat jika Anda hendak melakukan wisata bahari.

Sebuah jembatan kayu terbentang dari pinggir pantai hingga mengarah ke laut. Di saat Anda sedang duduk di ujung jembatan kayu yang mengarah ke laut, jangan sia-siakan kesempatan untuk menikmati pemandangan penyu-penyu yang terkadang berenang hingga muncul diatas permukaan air yang bening Tak jarang pula penyu-penyu tersebut berkeliaran di cottage yang terdapat di pesisir pantai, bahkan pada malam hari mereka naik kedarat untuk bertelur

Seorang ilmuan dari Museum Tropis Queensland, Australia, Dr Carden Wallace, pernah melakukan penelitian akan kekaaan laut Pulau Derawan dan menjumpai lebih dari 50 jenis Arcropora (hewan laut) dalam satu terumbu karang. Melalui hal itu, Pulau Derawan menempati urutan ketiga teratas sebagai tempat tujuan menyelam dengan standar internasional.

Jika ingin melakukan penyelaman, Anda bisa menyewa alat menyelam seharga Rp 30.000/hari untuk menjelajahi keeksotisan bawah laut pulau ini. Jangan lewatkan pula kesempatan untuk melihat batu karang dengan panjang 18 meter yang dikenal sebagai “Blue Trigger Wall”, yang terdapat banyak ikan trigger disekitarnya.

Meski pulau ini relatif kurang begitu dikenal khususnya di dalam negeri, mengingat sulitnya untuk menjangkau tempat ini karena butuh perjuangan panjang, pengorbanan anda akan terbayar dengan pesona pulau Derawan. Terlebih lagi, penginapan disini relatif murah karena dikelola oleh warga sekitar. Mulai dari Rp 45.000 – Rp 100.000/malam. (wisatakaltim.com/*/X-13)

Ayo Menyusuri Taman Nasional Alas Purwo

Ayo Menyusuri Taman Nasional Alas Purwo

MENYUSURI hutan menjadi pengalaman liburan yang menyenangkan. Anda bisa mengunjungi Taman Nasional Alas Purwo yang dikenal sebagai hutan hujan paling alami di Indonesia, bahkan mungkin di Asia, dan termasuk yang tertua di Pulau Jawa.

Taman Nasional Alas Purwo adalah taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Saat berjalan di antara pepohonan besar berumur ratusan tahun yang menjulang tinggi, Anda akan ditemani suara nyanyian burung. Tak menutup kemungkinan Anda bisa menjumpai beberapa hewan seperti kijang, kera berekor panjang, lutung, ayam hutan, rusa, dan burung merak dengan ekornya yang indah.

Selain bertualang menyusuri hutan, jangan lupa mengunjungi beberapa gua mistis yang ada pada kawasannya, seperti Gua Istana, Gua Putri dan Gua Padepokan. Jika Anda pemberani, selusurilah Gua Macan yang memiliki nuansa mistis tertinggi. Konon, penduduk setempat mengatakan bahwa Bung Karno pernah bertapa di gua ini.

Umur hutan yang sangat tua kerap memberikan inspirasi untuk cerita kuno komik serta film silat. Dulunya hutan memang dijadikan sebagai tempat oleh orang-orang tertentu untuk menguatkan kesaktiannya.

Salah satu keunikan hutan adalah keberadaan sebuah pura Hindu bernama Pura Luhur Giri Salaka yang terletak di tengah hutan Taman Nasional Alas Purwo. Meski umurnya sudah tua, pura masih banyak dikunjungi pemeluk Hindu pada hari suci Pager Wesi setiap 210 hari.

Sebagai upaya mengingatkan pengunjung untuk turut menjaga kelestarian hutan, di salah satu pintu masuknya dipajang tulisan, seperti: Jangan tinggalkan apapun kecuali telapak kaki dan jangan mengambil apapun kecuali foto dan Alam itu pasrah kepadamu. (indonesia.travel/*/X-13)

Menikmati Keasrian Kota Bogor di Curug Cilember

Menikmati Keasrian Kota Bogor di Curug Cilember

BILA ingin menikmati suasana Bogor yang sejuk asri, Anda bisa mengunjungi obyek wisata Curug Cilember yang terdiri dari 2 hektare hutan tanaman. Sepanjang mata memandang, Anda akan menemukan hamparan pepohonan hijau yang menyegarkan mata.

Terdapat tujuh buah air terjun (curug) dengan maksimal ketinggian mencapai 30m. Namun yang paling sering dikunjungi adalah curug keempat yang konon berkhasiat menyembuhkan penyakit, membuat awet muda, dan mempercepat jodoh.

Curug Cilember disebut pula sebagai tempat pemandian bagi para putri kayangan. Seorang penduduk berusia 70 tahun yang tinggal di sekitar obyek wisata mengaku pernah melihat sekitar 7 putri cantik yang sedang mandi sambil bersenda gurau di curug keempat.

Di atas lokasi curug ketujuh terdapat sebuah makam keramat yang juga sering mendapat kunjungan masyarakat setiap harinya. Konon, makam tersebut bernama makam Embah Jaya Sakti yang masih memiliki garis keturunan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran.

Berkemah

Kawasan Curug Cilember dilengkapi dengan dua kompleks perkemahan dan pondokan berupa enam buah villa. Tiga villa teratasnya memiliki pemandangan air terjun yang bisa terlihat langsung dari kamar tidur. Tak heran ketiganya diberikan tag line “waterfall at your doorstep”.

Selain camping ground dan villa, pengunjung juga bisa menjumpai sekumpulan kupu-kupu cantik yang berterbangan bebas di taman kupu-kupu. (*/OL-06)

Ada Kembaran Taman Prasasti Jakarta di Surabaya

Ada Kembaran Taman Prasasti Jakarta di Surabaya

Makam Belanda PenelehSurabaya – Suasana unik Taman Prasasti di Jakarta Pusat membuat siapapun jatuh hati. Bukan cuma Jakarta, Surabaya juga punya taman yang mirip dengan Taman Prasasti,lho. Makam Belanda Peneleh namanya. Penasaran?

Situs sejarah seringkali menjadi incaran para traveler saat berlibur ke sebuah daerah. Nah, Surabaya punya yang keren yaitu Makam Belanda Peneleh. Makam tua ini berada tepat di belakang Puskesmas Peneleh. Peneleh merupakan salah satu daerah yang masih asli dan belum banyak mendapat perubahan di Kota Surabaya.

Makam ini dibangun pada tahun 1814, dengan nama De Begraafplaats Peneleh Soerabaja. Kompleks pemakaman ini diperuntukkan bagi tuan dan none Belanda yang tinggal di Surabaya, pada masa penjajahan kala itu.

Saat masuk lebih dalam ke area pemakaman, suasananya sangat berbeda. Traveler akan terbawa suasana, seolah-olah hidup kembali di zaman penjajahan Belanda. Detil ornamen yang bergaya klasik menjadikan makam ini sebagai tempat paling top untuk foto-foto. Meskipun kondisinya saat ini kumuh dan memprihatinkan, makam ini masih menyisakan sisa-sisa arsitektur bangunan zaman dahulu.

“Sekarang makamnya sudah tidak terawat. Tapi tetap banyak yang datang untuk foto-foto,” kata seorang warga lokal Surabaya, Edo saat dihubungi detikTravel, Rabu (13/3/2013).

Suasana tempo dulu yang terasa, membuat makam ini sering dijadikan untuk lokasi pre-weeding. Tak jarang, sering pula anak-anak sekolah datang ke pemakaman yang turut menjadi saksi sejarah Kota Surabaya ini.

Tidak jauh berbeda dengan Taman Prasasti, makam Belanda ini juga dihiasi dengan patung-patung. Sayang, sebagian besar patung tersebut sudah tidak utuh. Bila saja masih terawat dengan baik, kondisi makam ini sebenarnya tertata dengan rapi. Bahkan lengkap dengan nomor seri di setiap nisannya. Seluruh makam di sini terbuat dari logam dan tembok dari batu.

Sebenarnya, untuk masuk ke dalam makam Belanda ini traveler tidak dipungut biaya. Traveler hanya perlu membayar untuk parkir kendaraan. Akan tetapi, alih-alih untuk biaya retribusi perawatan makam, traveler dikenai tarif seikhlasnya.

“Gratis, tapi kalau foto-foto harus bayar. Untuk yang pre-weeding biasanya harus membayar sekitar Rp 200 ribu. Kalau hanya foto-foto bisa bayar Rp 50 ribu,” tambah Edo.

Sejak tahun 1955, Makam Belanda Peneleh sudah ditutup. Kini hanya menjadi salah satu destinasi wisata saja.

Miris, keberadaannya yang dekat dengan perkampungan penduduk membuat makam ini terkadang berfungsi sebagai tempat warga menjemur pakaian. Sungguh disayangkan, padahal ini adalah makam tertua di Jawa Timur dan menjadi bukti peninggalan sejarah keberadaan Kota Surabaya.

Sumber: detikcom

Museum Jenderal Nasution

Museum Jenderal Nasution

Museum Jenderal NasutionMuseum ini semula adalah kediaman pribadi dari Pak Nasution yang ditempati bersama dengan keluarganya sejak menjabat sebagai KSAD tahun 1949 hingga wafatnya pada tanggal 6 September 2000. Petugas dari Dinas Sejarah Mabes TNI AD melakukan perawatan diorama di Museum Jenderal Besar DR AH Nasution, Jakarta Pusat, Minggu (29/9/2013).

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila untuk mengenang korban dari peristiwa G30S/PKI yang juga merenggut nyawa putri Jenderal Besar Nasution, Ade Irma Suryani Nasution. Museum Abdul Haris Nasution atau tepatnya Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution adalah salah satu museum pahlawan nasional yang terletak di Jalan Teuku Umar No. 40, Jakarta Pusat, DKI Jaya, Indonesia.

Museum ini terbuka untuk umum dari hari Selasa hingga hari Minggu, dari pukul 08:00 hingga pukul 14:00 WIB. Setiap hari Senin museum ini ditutup untuk umum.

Sumber: Nonblok.com

Jenuh Hidup di Perkotaan, Cobalah Datang ke Derawan

Jenuh Hidup di Perkotaan, Cobalah Datang ke Derawan

DerawanJalanan macet dan tugas kantor yang menumpuk, membuat Anda jenuh dengan kehidupan di kota. Satu tempat untuk menyegarkan pikiran adalah di Derawan, Kaltim. Taman bawah laut hingga ubur-ubur tak menyengat ada di sini, cantik banget!

Mungkin kita jenuh dengan hidup di perkotaan. Banyak pekerjaan kantor, lalu lintas yang macet, dan pikiran yang penat, membuat kita harus berlibur supaya pikiran kembali segar dan menjadi sehat. Nah, Derawan di Berau, Kalimantan Timur dijamin akan membuat diri Anda kembali lebih ceria.

Sekitar Mei 2012 lalu, saya traveling ke Derawan. Derawan adalah destinasi setelah Pulau Weh di Sabang. Saya ingin terus mencari pantai-pantai indah yang terbentang di sepanjang Nusantara.

Anda pernah mendengar Derawan? Ini adalah kepulauan yang ada di antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Derawan merupakan gugusan kepulauan kecil dengan beraneka ragam penghuni bawah laut. Saya pun bermodal nekat dan uang pas-pasan berdua bersama teman ke sana.

Dengan bujet Rp 2,5 juta, kami traveling selama 4 hari 3 malam di Derawan. Kami menggunakan jasa travel lokal setempat, dengan biaya Rp 900 ribu untuk akomodasi, konsumsi, dan transportasi. Ini termasuk murah.

Derawan itu khas. Beragam homestay yang terletak menjorok ke pantai, membuat Anda tidur dengan nyaman sambil ditemani suara ombak. Belum lagi, banyak penuyu-penyu yang ada di pantainya. Ukurannya pun besar-besar. Derawan juga menjadi spot diving dan snorkeling yang ciamik, air lautnya sangat jernih!

Di Pulau Maratua, kami benar-benar menikmati air laut yang jernih. Anda bisa berjalan menyisiri pantai untuk juga bisa merasakan pasir pantainya yang halus dan putih. Kata penduduk setempat, jika beruntung Anda bisa melihat anak-anak hiu yang berenang di sekitar pulaunya. Terumbu karang yang ada di bawah lautnya, terlihat sangat cantik dengan ukuran yang beragam.

Beda lagi dengan di Pulau Kakaban. Pulau ini terkenal dengan ubur-ubur tanpa sengat yang ada di danau tengah-tengah pulaunya. Anda bisa berenang bersama mereka dan melihat bentuknya yang mungil dari dekat. Untuk urusan bawah laut, keindahannya jangan diragukan.

Kami juga melangkahkan kaki ke Pulau Sangalaki. Hamparan pasir putih menyambut kedatangan wisatawan yang datang ke sini. Satu hal yang terkenal di Pulau Sangalaki adalah adanya ikan manta yang sangat besar. Ukurannya bisa lebih besar dari badan manusia. meski demikian, tak sedikit penyelam yang berenang-renang bersama ikan manta tersebut.

Derawan adalah satu dari sekian banyak pantai yang indah di Nusantara. Saat Anda jenuh dengan perkotaan, siapkan ransel dan melanconglah ke Derawan. Rasanya, benar-benar tak mau pulang setelah Anda berkeliling kepulauan ini.

Sumber: detikcom

Istana Kuning

Istana Kuning

Istana KuningObjek wisata Istana Kuning,merupakan sebuah situs peninggalan dari Kerajaan Kotawaringin yang tersisa, sekarang kembali dipugar dan dipercantik, sehingga menjadi salah satu daya tarik tersendiri untuk para wisatawan.

Istana ini dulunya pada era tahun 80-an pernah hangus terbakar, dan menurut cerita orang-orang tua, hal itu dilakukan secara sengaja oleh seseorang yang namanya Deraya, karena bentuknya yang sekarang (setelah dipugar) sepertinya terlihat kurang orisinal lagi dengan sentuhan bangunan ala modern.

Kalau dulu Istana yang berbentuk khas kalimantan dengan model panggung ini terlihat tinggi dengan tiang penopang bangunan yang tinggi-tinggi, kini Istananya menjadi sedikit lebih rendah.

Disekitar areal belakang Istana Kuning tersebut juga menjadi tempat tinggal bagi para keturunan kerajaan yang masih hidup sampai sekarang.untuk bisa masuk Istana Kuning harus ada tata krama bagi pengunjung, menurut adat dan istiadat kerajaan, dan itu wajib bagi setiap pengunjung.bagi pengunjung terutama, ibu-ibu yang sedang haid tidak diperobolehkan memasuki istana kuning,dan jika masuk istana harus melalaui prosesi menurut atauran kerajaan.(wisatanesia)

Sumber: DNA Berita

Objek Wisata Baru di Sumut: Kebun Teh Tobasari

Objek Wisata Baru di Sumut: Kebun Teh Tobasari

Kebun Teh TobasariSimalungun – Siapa bilang Sumatera Utara tidak punya kebun teh. Pemandangan kebun teh yang menghampar hijau ala Puncak atau Lembang, juga di Tobasari, Kabupaten Simalungun, Sumut. Teh hitam-nya legit!

Usai perjalanan dari Danau Toba, bus yang membawa detikTravel dan para fotografer Garuda Indonesia Photo Contest 2013 dari lima negara, tiba di hamparan hijau bak permadani pada Selasa (27/8/2013) lalu. Kebun teh terlihat sejauh mata memandang di Desa Sarimattin, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun.

Konturnya memang lebih landai daripada kebun teh Gunung Mas di Puncak, Bogor. Namun tetap saja, pemandangan hijau ini membuat mata teduh. Dua mobil milik PT Perkebunan Nusantara IV memandu kami masuk ke tengah-tengah perkebunan. Para fotografer lantas menghambur keluar untuk mengabadikan lanskap hijau ini dalam gambar.

Wah, indahnya! Sekelompok ibu-ibu pemetik teh sedang mengambil pucuk daun terbaik secara manual. Sementara di kejauhan, para lelaki memakai mesin khusus pemetik teh yang lebih modern.

“Tobasari luasnya 590 hektar, semuanya blacktea,” kata Kadis Tanaman Tobasari PTPN IV, Berlindo Saragih memulai obrolan santai dengan detikTravel.

Berada di ketinggian 1.100 mdpl, saya belum merasa sejuk-sejuk amat di sini. Walaupun ini sudah merupakan daerah perbukitan. Meski demikian, pemandangan hijau memang menjadi daya tarik utama.

Tidak salah, menurut Berlindo, perkebunan Tobasari kini dipersiapkan untuk menjadi agro wisata seperti halnya di Gunung Mas, Bogor. Berlindo mengatakan, nantinya akan ada aneka kegiatan wisata yang ditawarkan kepada turis.

“Agrowisata lagi disiapkan PTPN IV. Nantinya ada tea walk, factory tour, tea morning. Penginapan juga rencananya disiapkan dari guest house punya PTPN,” jelas dia.

Berlindo dengan lancar menjelaskan proses pengolahan daun teh kepada saya. Dari data yang diberikan PTPN IV, black tea dari perkebunan Tobasari diekspor ke Eropa, Amerika, Australia, Timur Tengah dan lain-lain. Di dalam negeri, teh mereka memasok banyak produsen teh misalnya Sariwangi dan Lipton.

Kebun teh Tobasari, bisa menjadi alternatif liburan baru di Sumatera Utara. Apalagi jika nanti agrowisata yang dirancang PTPN IV sudah siap berjalan. Kebun teh ini bisa dijangkau dari Pematangsiantar sejauh 28 km dengan waktu perjalanan sekitar 45 menit.

“Sejauh ini wisatawan yang datang ke sini biasanya yang sedang melintas kemudian singgah di sini,” jelas dia.

Usai menikmati hamparan hijau teh dan berfoto-foto, saya dan para fotografer Garuda Photo Contest diajak melihat pabrik teh Tobasari. Di ruang pertemuan di pabrik itu, beraneka cangkir teh panas black tea sudah menunggu kami.

Slurrrp! Aroma dan rasa legit black tea yang baru diproses ini memang bukan main. 3 Cangkir black tea panas pun licin tandas menyempurnakan kunjungan saya ke perkebunan teh Tobasari. Sempurna!

Sumber: detikcom

Unik! Danau Toba Punya Pantai Pasir Putih

Unik! Danau Toba Punya Pantai Pasir Putih

Danau TobaUnik sudah pasti. Beda dengan pantai lainnya, Pasir Putih Parbaba ini bukan di laut tapi di tepi danau. Keunikan yang tersimpan di Danau Toba, Sumatera Utara ini pun bisa menggoda wisatawan untuk menceburkan diri. Byurr!

Pagi yang cerah dan indah itu merupakan kenangan ketika kami berangkat melakukan perjalanan wisata. Walaupun, cuaca masih dingin sampai menusuk tulang-tulang sumsum, itu tidak menjadi hambatan. Semua itu merupakan suatu kesatuan yang sangat berkesan seolah-olah Tuhan berkata selamat menikmati perjalanan wisata ini.

Beberapa minggu yang lalu,seorang teman kampus yang kini sudah tamat dan bekerja ingin berlibur bersama kami, teman-temannya yang masih berjuang menyelesaikan tugas akhir untuk meraih gelar sarjana. Keinginannya itu juga sebagai ungkapan akan kerinduannya kepada teman-teman saat kuliah dulu. Hal itu pun kami tanggapi dengan senang hati.

Tanggal 26 Oktober, kami setujui sebagai hari untuk melakukan perjalan wisata tersebut. Kenapa tanggal 26 Oktober? Karena saat itu adalah tanggal merah, tepatnya dalam rangka Hari Raya Idul Adha bagi umat Islam.

Jadi, hari ini juga kami punya waktu luang untuk berhenti sejenak dari aktivitas masing-masing. Samosir dan Parapat menjadi tempat yang kami pilih untuk wisata kami.

Dimulai pada 25 Oktober 2012, pukul 08.00 WIB kami semua berkumpul di tempat kos seorang teman. Sebelum kami berangkat, ada sedikit kekecewaan karena tidak semua teman yang awalnya berjumlah sebelas orang setuju ikut, malah ada beberapa teman yang bisa ikut, akhirnya kami hanya tujuh orang yang berangkat untuk berlibur.

Tepat pukul 00.45 WIB, kami pun berangkat dari Medan menuju Samosir. Dari atas mobil, kelihatannya semua teman beseri-seri dan gembira. Selama perjalanan kami isi dengan ngobrol-ngobrol, bercanda, hingga menimbulkan suasana yang semakin ceria.

Setelah lelah ketawa-ketiwi, teman-teman pun tidur karena perjalanan masih panjang. Rute yang kami lalui menuju Samosir dengan memilih rute Medan-Berastagi-Sidikalang-Pangururan. Teman-teman pun tertidur, hanya supir dan kernetnya kebetulan supir mobil yang disewa adalah teman kami juga namanya Mas Dodi Turnip alias Rini.

Sekitar, pukul 07.00 WIB kami pun sampai di Tele. Setelah sarapan pagi dengan melakukan perjalanan kurang lebih 20 km, kami pun sampai di Menara Pandang Tele. Sesampainya di sana kami sempatkan untuk mengabadikan foto sebagai kenangan di menara pandang. Teman-teman yang baru pertama kalinya berwisata ke Samosir, sangat takjub dengan keindahan Pulau Samosir dan Danau Toba.

Danau Toba, berbicara tentang pesona danau vulkanik yang terletak di Sumatera Utara ini memang tidak akan ada habisnya. Sebab danau ini punya objek wisata alam yang indah membentang dari satu bagian ke bagian lainnya. Mulai dari perairan danau, perbukitan, jejeran pegunungan, hingga pantai berpasir putih serta objek wisata alam lainnya seperti Pulau Samosir yang berada tepat di tengah-tengah Danau Toba.

Tak hanya sebagai objek wisata alam, Danau Toba pun terkenal dengan eksotika perkampungan etnis Batak. Di mana tradisi dan kebudayaan khas Batak masih dapat Anda lihat, sebab penduduk di perkampungan tersebut sangat menjaga kelestarian budaya yang dibawa oleh generasi-generasi mereka sebelumnya.

Dengan keunikan Danau Toba yang begitu eksotis seperti ini, Danau Toba menjadi destinasi pariwisata internasional bahkan juga menjadi ikon pariwisata Indonesia. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju hotspring atau pangururan. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi dengan pemandangan yang indah.

Danau Toba dikelilingi bukit-bukit, namun gundul, tandus, dan gersang. Kemudian, mulailah tampak ciri khas Batak. Di sepanjang bukit tersebut kelihatan beberapa kuburan yang berupa tugu berukuran besar, serta tinggi dan rendah. Artinya, bukit-bukit tersebut tidak ditanami dengan tumbuhan tetapi dengan jasad orang yang meninggal.

Banyaknya kuburan atau tugu itu dikarenakan masih adanya pemahaman orang Batak. Pemahaman tersebut, yakni sejauh manapun seseorang merantau kalau meninggal harus dikubur di kampung halamannya, Samosir.

Pemandangan lain yang terlihat adalah keramba ikan di danau. Keramba biasanya terbuat dari jaring bahan plastik. Di sanalah ikan diternakkan yang tiap hari harus dikasih makan. Keramba itu kelihatannya dalam jumlah banyak dan benar-benar sangat mengganggu dan merusak keindahan.

Pukul 09.00 WIB kami sampai di Hotspring. Karena cuaca di Samosir sudah mulai cerah, kami pun memutuskan untuk tidak mandi di hotspring. Kami hanya singgah sebentar untuk cuci muka dan menikmati pemandangan di sekitar hotspring. Selanjutnya, kami sempatkan untuk berkeliling di Kota Pangururan, Ibukota Samosir ini sebelum berangkat menuju Pantai Pasir Putih Parbaba.

Salah satu keunikan yang tersimpan di pesisir Danau Toba adalah Pantai Pasir Putih Parbaba. Apabila baru pertama kali mendengar adanya sebuah pantai yang terletak di Danau Toba tentunya menyimpan pertanyaan.

Bagaimana bisa ada pantai yang terdapat di pesisir danau? Apalagi Danau Toba bukanlah daerah dataran rendah dengan hawa panas yang bisa menyebabkan daerah punya banyak pantai.

Ya, panorama pantai ini memang ada di Danau Toba. Tentunya destinasi ini bukanlah pantai yang seperti dibayangkan sebelumnya. Karena pantai di Danau Toba ini berbeda dari pantai-pantai lainnya yang terdapat di dataran rendah, meski sama-sama memiliki pasir putih yang khas.

Keunikan pantai ini banyak mengundang perhatian dan decak kagum para wisatawan dari berbagai daerah ketika mengunjunginya. Berada di daerah dataran tinggi yang beriklim sejuk, perairan di pantai ini bukanlah air asin yang mengandung garam seperti di daerah dataran rendah melainkan air tawar yang terdapat perairan Danau Toba. Sehingga sensasi segar dan sejuk membaur menjadi satu ketika berada di kawasan pantai ini.

Selain itu pantai ini juga cukup dangkal hingga jarak beberapa meter dari pesisir. Bahkan menurut informasi, kedalaman yang paling tinggi dari Pantai Pasir Putih Parbaba ini hanya berkisar antara 2 meter hingga 2,5 meter.

Apabila berenang di sekitar Pantai Pasir Putih Parbaba, maka Anda akan merasakan sensasi seperti di kolam renang alami yang berukuran besar. Ditambah rasa yang tentunya cukup aman tanpa adanya arus deras seperti di daerah pantai dataran rendah.

Tak hanya itu, pasir putih di kawasan pantai ini pun juga terlihat sangat bersih. Pasir putih tersebut membentang dari sisi utara ke selatan dan sesekali bergerak seiring dengan hembusan angin yang sejuk.

Sekitar pukul 11.30 WIB kami pun sampai di Pantai Pasir Putih Parbaba. Sesampainya di sana kami menggelar tikar. Tempat kami berteduh di bawah pohon waru menikmati panorama alam yang disuguhkan pantai pasir putih ini.

Setelah makan siang, tak lengkap rasanya apabila tidak berenang ataupun sekadar berendam di perairan pantai yang unik ini. Ya, meski airnya cukup dingin tapi akan terasa sangat segar ketika merasakan langsung air pantainya. Apalagi setelah menempuh perjalanan jauh menuju Danau Toba.

Rasa lelah dan penat di perjalanan akan hilang setelah menyaksikan panorama alam yang terbentang di sekitar Pantai Pasir Putih Parbaba. Puas berenang di Pantai Pasir Putih Parbaba, pukul 14.30 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju Tomok.

Sumber: detikcom

Liburan Berbeda di Bandung, Melancong ke Pasar Apung

Liburan Berbeda di Bandung, Melancong ke Pasar Apung

Pasar Apung LembangBandung – Tak perlu ke Kalimantan atau Thailand jika ingin menikmati pasar terapung. Di Bandung, ada tempat wisata baru yang menawarkan suasana pasar apung di Floating Market Lembang. Tempat ini bisa jadi pilihan libur akhir pekan.

Kawasan seluas 7,2 hektar dengan danau di bagian tengahnya ini menyediakan berbagai hiburan lengkap bagi seluruh anggota keluarga. Danau yang kini menjadi tempat wisata ini dulu dikenal sebagai Situ (Danau) Umar. Sebelumnya, danau tersebut digunakan sebagai tempat pemancingan.

Hingga kemudian, danau alami dengan 8 mata air itu disulap menjadi tempat yang asri dan indah. Kini sekelilingnya dibuat saung-saung dan jalan setapak. Di bagian depan ada deretan rumah joglo yang terbuat dari kayu yang ternyata digunakan sebagai toko suvenir. Di atas danau, ada beberapa rumah terapung yang bisa disewa untuk berbagai kegiatan.

Bagian spesial di sini tentu saja area dermaga di mana ada 45 perahu yang menjajakan berbagai macam kuliner yang menggoda lidah. Dari dalam perahu masing-masing, para pedagang melayani para pembelinya. Sebut saja aneka jajanan seperti sate, tutut, tempe mendoan, potato twist, lotek dan aneka minuman tersedia lengkap di sini.

“Masing-masing perahu menjual jenis makanan yang berbeda, jadi lebih bervariasi,” ujar Intania Setiati, PR The Big Price Cut Group yang menaungi Floating Market Lembang kepada detikTravel di lokasi, Jumat (26/7/2013).

Yang menarik, ada bagian tempat makan yang juga dibuat secara terapung di salah satu sisi area dermaga. Sehingga pengunjung akan merasakan sensasi goyangan saat makan di atasnya. Selain di area terapung, disediakan juga deretan tempat duduk dan meja yang memanjang di bagian tengah danau.

Bagi keluarga yang ingin bersantai lebih leluasa, ada juga saung-saung nyaman yang berada di sekeliling danau. Saung ini bisa disewa dengan harga mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 120 ribu per 2 jam tergantung dari ukuran dan lokasi saung.

“Area kuliner pun tak hanya ada di dermaga yang dijajakan di atas perahu, namun ada tempat makan di bagian sisi kiri kanan yang menyediakan menu barat dan seafood serta makanan berat lainnya,” katanya.

Berbagai macam hiburan bagi Anda dan keluarga termasuk anak-anak pun tersedia lengkap di sini. Wahana air di area dermaga antara lain terdiri dari perahu kayuh, sampan, kano dan sepeda air untuk berkeliling danau. Harganya Rp 35 ribu hingga Rp 70 ribu untuk sampan yang berkapasitas 5 orang

Tak hanya itu, anak-anak pun dijamin makin betah dengan adanya wahana ATV, flying fox, pancing ikan, Taman Kelinci, Kolam Bebek, sepeda anak hingga mewarnai keramik. Tak ketinggalan, ada juga Kampung Leuit yang menawarkan suasana dan kegiatan pedesaan seperti memanen buah.

“Konsepnya adalah tempat hiburan lengkap untuk keluarga dengan nuansa alam. Apalagi tempat wisata dengan nuansa air seperti ini baru ada,” tutur Intan.

Saat ini, Floating Market juga tengah mempersiapkan Taman Batu Fosil yang nantinya disediakan sebagai area foto-foto dengan latar yang unik bagi para pengunjung. Untuk bisa masuk ke Floating Market Lembang ini satu orang pengunjung hanya harus membeli tiket masuk Rp 10 ribu yang kemudian ditukarkan dengan welcome drink.

Namun jangan lupa, tukarkan dulu uang di Anda dengan koin Floating Market. Karena seluruh transaksi di sini menggunakan koin tersebut. Nilai koinnya hanya ada dua, yaitu pecahan Rp 5 ribu dan Rp 10 ribu.

Sejak dibuka pada akhir 2012 lalu, pasar terapung ini makin banyak dikenal dan dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar kota. Floating Market Lembang ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB pada hari kerja, sementara akhir pekan (Jumat-Minggu) buka mulai pukul 08.00 WIB hingga 20.00 WIB.

Sumber: detikcom

Siapa Sangka, Pacitan Punya Sunset Secantik Ini

Siapa Sangka, Pacitan Punya Sunset Secantik Ini

Pantai Teleng RiaBerada di ujung selatan Jawa Timur, Pacitan punya pesona yang tak bisa dipandang sebelah mata. Di sana Anda bisa menyaksikan sunset cantik dengan matahari yang terlihat bulat dan jelas. Langit pun seketika berwarna kuning keemasan.

Pacitan adalah kota kecil yang terletak di bagian selatan Jawa Timur. Salah satu objek wisata yang terkenal di sana adalah Pantai Teleng Ria, yang punya sunset cantik!

Pantai Teleng Ria terletak di Kelurahan Sidoharjo dan dapat di tempuh sekitar 15 menit dari pusat kota. DI sinilah ada pemandangan matahari terbenam yang berwarna kuning keemasan. Rasanya wajib untuk diabadikan dalam kamera.

Jika Anda berjalan ke pesisir timurnya, maka akan ebrtemu Pancer. Di sinilah wisatawan yang gemar surfing menyalurkan hobinya. Keunikan lainnya, Pancer punya senja yang indah di musim kemarau. Pemandangan matahari terbenam terlihat dari atas bukit. Ada juga puluhan kerbau yang dilepas begitu saja ke padang rumput. Suasana senja pun semakin syahdu.

Usut punya usut, rupanya Pacitan ini hampir semua wilayahnya berbatasan langsung dengan laut. Melihat sunsest di mana pun di Pacitan, rasanya menakjubkan.

Sumber: detikcom

Danau Sebedang

Danau Sebedang

Danau SebedangObjek Wisata Danau Sebedang merupakan sebuah danau yang mempunyai luas sekitar 1 km.dan Objek Wisata Danau Sebedang dikelilingi oleh bukit dengan ketinggian sekitar 400 meter dari permukaan laut. Kawasan Objek wisata ini sangat mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat karena berada pada jalur jalan regional Sambas – Singkawang – Pontianak. Objek Wisata Danau ini memiliki panorama alam yang indah.

Lokasi Objek Wisata Danau Sebedang berada di Desa Sebedang Kecamatan Sambas, jarak tempuh ke lokasi ini dari Kota Pontianak ± 202 km. Kondisi jalan masuk ke lokasi beraspal sepanjang ± 500 meter dapat dilalui dengan kendaraan roda empat. Objek Wisata Danau Sebedang terdapat fasilitas penunjang kepariwisataan yang disediakan oleh masyarakat setempat bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sambas.

Bagi wisatawan yang tertarik untuk melakukan olahraga hiking, dapat menuju puncak Bukit Amor yang berada di sebelah selatan danau dan menikmati keindahan pemandangan danau. Bagi anda membawa keluarga, dapat sekalian mengunjungi pulau panjang yang berada di tengah Danau Sebedang. Menurut sejarah, Danau Sebedang digunakan para Sultan Sambas untuk tempat pemandian dan peristirahatan.(Wisatanesia)

Sumber: DNA Berita