Bisa Awet Muda jika Berkunjung ke Pantai Indah Popoh

Bisa Awet Muda jika Berkunjung ke Pantai Indah Popoh

SAAT berkunjung ke Taman Wisata Indah Popohati, sempatkan waktu menghampiri Pantai Indah Popoh. Tak hanya pemandangannya yang indah, konon jika membasuh muka dengan air lautnya Anda bisa awet muda.

Jika ingin merasakan kehebatan ombak laut, berjalanlah di sepanjang jalan setapak sejauh hampir 1 km. Pada tebing-tebing karang terdapat goa alam dimana wisatawan bisa menyaksikan lebih dekat ikan paus yang ada di tengah lautan.

Pantai Indah Popoh terletak di wilayah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, sekitar 27 km ke arah selatan dari Kota Tulungagung. Di sekitar pantai tersedia tempat-tempat peristirahatan sehingga pengunjung bisa menyaksikan dan memandangi ombak dengan penuh kenyamanan.

Pantai Indah Popoh bisa digapai menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Rute perjalanan yang dilalui mendaki perbukitan di pegunungan selatan. Selama perjalanan Anda akan disuguhkan dengan pemandangan tebing kapur.

Tepat di bawah puncak bukit menjadi lokasi Pantai Popoh, sebuah pantai alam berbentuk teluk di laut selatan. Letak geografis pantai yang menjorok ke dalam memberikan pengaruh terhadap kondisi lautnya sehingga gelombang laut selatan yang terkenal dahsyat berubah menjadi tenang. (wisatamalang.com/*/X-13)

Ayo Menyusuri Taman Nasional Alas Purwo

Ayo Menyusuri Taman Nasional Alas Purwo

MENYUSURI hutan menjadi pengalaman liburan yang menyenangkan. Anda bisa mengunjungi Taman Nasional Alas Purwo yang dikenal sebagai hutan hujan paling alami di Indonesia, bahkan mungkin di Asia, dan termasuk yang tertua di Pulau Jawa.

Taman Nasional Alas Purwo adalah taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Saat berjalan di antara pepohonan besar berumur ratusan tahun yang menjulang tinggi, Anda akan ditemani suara nyanyian burung. Tak menutup kemungkinan Anda bisa menjumpai beberapa hewan seperti kijang, kera berekor panjang, lutung, ayam hutan, rusa, dan burung merak dengan ekornya yang indah.

Selain bertualang menyusuri hutan, jangan lupa mengunjungi beberapa gua mistis yang ada pada kawasannya, seperti Gua Istana, Gua Putri dan Gua Padepokan. Jika Anda pemberani, selusurilah Gua Macan yang memiliki nuansa mistis tertinggi. Konon, penduduk setempat mengatakan bahwa Bung Karno pernah bertapa di gua ini.

Umur hutan yang sangat tua kerap memberikan inspirasi untuk cerita kuno komik serta film silat. Dulunya hutan memang dijadikan sebagai tempat oleh orang-orang tertentu untuk menguatkan kesaktiannya.

Salah satu keunikan hutan adalah keberadaan sebuah pura Hindu bernama Pura Luhur Giri Salaka yang terletak di tengah hutan Taman Nasional Alas Purwo. Meski umurnya sudah tua, pura masih banyak dikunjungi pemeluk Hindu pada hari suci Pager Wesi setiap 210 hari.

Sebagai upaya mengingatkan pengunjung untuk turut menjaga kelestarian hutan, di salah satu pintu masuknya dipajang tulisan, seperti: Jangan tinggalkan apapun kecuali telapak kaki dan jangan mengambil apapun kecuali foto dan Alam itu pasrah kepadamu. (indonesia.travel/*/X-13)

Pantai Bentar Mulai Bersolek

Pantai Bentar Mulai Bersolek

PANTAI Bentar merupakan salah satu destinasi wisata yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan mengingat lokasinya yang strategis di tepi jalan raya Surabaya, Banyuwangi. Letaknya berada pada lintasan wisata Bali – Surabaya – Yogyakarta – Jakarta.

Kedepannya akan diadakan pengembangan berupa resort disekitar kawasan pantai yaitu Hotel Terapung lengkap dengan fasilitas penunjang seperti water sport, sea aquarium, taman bermain, kolam renang, hutan mangrove, kolam ikan dan lainnya.

Pengembangan objek wisata Pantai Bentar Indah sangat menjanjikan terutama bagi pengusaha retoran atau penginapan karena pada rute perjalanan dari Surabaya menuju Denpasar Bali hanya dijumpai satu tempat rekreasi yang dijadikan sebagai stop over wisatawan, yakni pantai Pasir Putih (Situbondo).

Di seberang jalan lokasi pantai Bentar berada, terdapat sebuah bukit. Dari atas bukit Anda bisa menyaksikan keindahan pantai Bentar yang terletak di pinggiran pantai dan berlatarbelakangkan hamparan laut biru.

Sedangkan pada bagian timur lokasi wisata, nampak hutan bakau yang nantinya akan diperluas untuk pembuatan tambak tradisional. Bila ingin memancing, Anda harus mengeluarkan sejumlah uang sebagai pengganti atas biaya pemeliharaan tambak.

Bila semua perencanaan perkembangan berhasil dirampungkan, perjalanan menuju Probolinggo ke Pulau Gili Ketapang akan dilalihkan ke Pantai Bentar Indah, bukan melalui Pelabuhan Tanjung Tembaga. (probolinggokab.go.id/*/X-13)

Pesona Goa Akbar di Kota Wali

Pesona Goa Akbar di Kota Wali

KOTA Tuban, Jawa Timur tidak hanya tersohor karena minuman segarnya ‘legen’ yang diteres dari daun aren atau pegunungan kapurnya untuk dimanfaatkan industri pembuatan semen.

Tuban kini mendapat julukan kota seribu gua. Titel itu diberikan karena sejatinya di kabupaten ini terdapat sedikitnya seribu goa. Salah satunya Goa Akbar yang telah ditawarkan sebagai salah satu lokasi wisata unggulan sejak 1996 lalu. Berwisata dengan mengunjungi goa mungkin sudah tidak asing bagi Anda yang memiliki hobi traveling. Namun Goa Akbar, yang lokasinya persis di bawah kota, berbeda dengan lazimnya goa lainnya.

Kebanyakan orang mungkin mengira, tempat wisata yang berupa goa selalu identik dan berdekatan dengan hutan belantara atau pegunungan. Dan inilah, salah satu keunikan goa yang memiliki luas sekitar 0,5 hektare yang berada di Dukuh Ngabar, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Tuban Kota.

Goa yang memiliki nama asli Goa Ngabar ini diambil dari nama pedukuhan setempat. Selain itu, dahulu di sekitar goa banyak tumbuh pohon ngabar–sejenis pohon beringin yang memiliki batang kulit berwarna putih dan memiliki ranting menjulur ke bawah.

Untuk kelestariannya, di lokasi ini juga masih dirawat sebatang pohon ngabar sebagai simbolnya. Pemberian nama Akbar pada gua juga dikarenakan ruangan gua yang sangat luas dan besar. Selain itu, nama Akbar juga merupakan akronim dari Aman, Kreatif, Bersih, Asri, dan Rapi– yang tak lain adalah slogan dari Bumi Ronggolawe ini.

Ruangan dalam goa ini saling terhubung dan banyak memiliki keunikan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Misalnya, goa yang terletak persisnya di bawah pasar induk tradisional setempat masih tampak alami.

Terhubung pantai
Sejatinya, goa yang memiliki lorong sepanjang 1,2 kilometer ini adalah bagian atas saja. Sementara, pada bagian bawahnya juga terdapat ruangan yang tidak kalah luas. Sejumlah lorong yang ada di dasar goa ada diantaranya yang mengarah ke utara dan terhubung hingga pantai pesisir utara. Jaraknya sekitar 2 kilometer di pesisir pantai.

Sedangkan untuk lorong yang mengarah ke timur juga tersambung dengan Goa Ngerong– sebuah obyek wisata goa lainnya yang terletak di bagian selatan Kota Tuban persisnya di pinggir Anak Sungai Bengawan Solo. Padahal, jarak antara Goa Ngerong dengan Goa Akbar tidak kurang dari 27 kilometer.

Untuk lorong yang mengarah ke barat terhubung dengan sungai bawah tanah Srunggo yang letaknya di wilayah Kecamatan Merakurak. Namun, lorong yang menuju ke bagian bawah ini sengaja dirahasiakan dan tidak dibuka untuk umum.

Sisi religius
Masyarakat Tuban percaya keberadaan Goa Akbar tersebut memiliki keterkaitan historis dengan sejarah perjuangan Wali Songo (Wali Sembilan), penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

Dikisahkan, saat itu Sunan Bonang melihat goa ini waktu diajak oleh Sunan Kalijogo (Raden Mas Sahid), seorang putra Bupati Tuban kala itu. Sehingga, beberapa tempat di goa ini oleh sejumlah kalangan dipercaya sebagai tempat Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang pernah bertapa. Misalnya, ceruk yang diberi nama Pasepen Koro Sinandhi yaitu, tempat pintu yang dirahasiakan.

Ceruk ini sangat kecil pintunya dan untuk masuk ke dalamnya, orang harus merangkak atau membungkuk. Warga sekitar percaya prosesi membungkuk ini memiliki makna filosofis yang tinggi yakni, pengunjung diingatkan bahwa dihadapan Tuhan semua harus bersikap diri.

Pada sisi lain, dalam gua terdapat sebuah ruangan yang bisa digunakan untuk melaksanakan ibadah salat dan oleh Pemkab Tuban telah ditata sedemikian rupa seperti musola plus dengan tempat wudhunya.

Pada ruangan lainnya yang cukup luas juga diberi nama Paseban Wali. Lokasi ini, juga dipercaya sempat digunakan oleh para Wali Songo untuk berkumpul dan menyampaikan ajaran agama Islam. Apalagi, letak ruangan ini juga mirip dengan ruang pertemuan yang bagian atapnya terdapat lubang-lubang udara hingga cahaya matahari masuk ke dalam dengan jelas.

Adapun stalaktit dan stalagmit juga seakan menjadi hiasan ruangan pertemuan dengan adanya batu-batu besar yang terletak di bagian depan ruang, yang seolah menjadi podium bagi pembicara. Dan pada salah satu ruangan, juga terdapat bongkahan batu yang dikelilingi pagar tembok bertuliskan Perapian Empu Supa.

Paska resmi dibuka oleh Bupati Tuban Hindarto pada 1996 lalu, setiap ruangan dalam goa yang dihubungkan dengan lorong-lorong ini diberi pegangan tangan dari pipa besi. Kini, dalam perkembangannya, pipa pengangan itu telah di ganti stainlis.

Pada lorong-lorongnya yang gelap dipasangi lampu aneka warna hingga suasana menjadi nyaman. Gelapnya, lampu yang ada dalam gua ini disebabkan karena sebagian penerangan tidak terawat. Di tempat ini pengungjung dianjurkan tidak merokok, berkata-kata, dan berbuat tidak sopan. Pagar pembatas juga sengaja dibuat agar pengunjung tidak sampai mengeksplorasi tanpa arah saat berada di dalam goa.

Umumnya, pada wisatawan domestik yang berkungjung di goa ini adalah rangkaian paket wisata religi Sembilan Wali. Karena, memang di Kabupaten Tuban ini merupakan wilayah lintasan strategis yang terdapat makam salah satu Wali Sembilan yakni, Sunan Bonang letak persisnya, berada di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban Kota dan bersebelahan dengan pendopo kabupaten serta alun-alun kota.(M-1)

Rona Merah Menawan Suku Tengger

Rona Merah Menawan Suku Tengger

KEELOKAN Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tidak hanya pada panorama alam yang begitu memesona, tapi juga Suku Tengger-nya sendiri yang mendiami wilayah sekitaran Bromo.

Suku Tengger memiliki ciri khas khusus pada rona wajah yang mereka miliki. Kulit di sekitar wajah mereka kemerah-merahan, hasil adaptasi dari suhu pegunungan Bromo yang sangat dingin. Boleh juga, ini menjadi pesona tersendiri bagi pelancong yang melirik penduduk asli Bromo ini.

Berdasarkan mitos atau legenda yang bertahan di masyarakat suku Tengger, mereka berasal dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari Raja Brawijaya dengan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama Tengger sendiri diambil dari akhiran nama kedua pasang suami istri itu yaitu, “Teng” dari Roro Anteng dan “Ger” dari Joko Seger.

Masyarakat Suku Tengger merupakan masyarakat yang sangat plural terutama pada masalah keyakinan spiritual. Terbagi menjadi tiga agama besar, Hindu, Budha dan Islam. Walaupun begitu kerukunan dan sikap toleransi beragama Suku Tengger tetap terjaga dengan kuat.

Suku Tengger yang berdiam di Bromo sangat mudah dikenali karena selalu menggenakan sarung. Suku Tengger mengenal sarung dengan istilah kawengan. Sarung bagi Suku Tengger adalah baju atau jaket penghangat mereka. Kawengan digunakan untuk menepis serangan angin dingin yang menusuk tulang, selain karena harganya yang murah dan mudah di dapat di mana-mana dibandingkan pakaian hangat yang lain.

Suku Tengger sangat mempertahankan seni dan budaya tradisional. Tarian khas mereka adalah tari sodoran yang kerap kali ditampilkan pada perayaan Karo dan Kasada.

Dari sisi budaya, masyarakat Tengger berbudaya pertanian dan pegunungan yang kental, hal ini terlihat dari penghormatan berupa upacara adat pada dewa setelah panen.

Mereka tidak pernah menjual ladang (tanah) kepada orang lain, apalagi orang yang berasal dari luar Bromo. Hasil pertanian utama suku Tengger adalah kentang, kubis, wortel, jagung dan tembakau. Mereka termasuk pengonsumsi tembakau yang cukup kuat.

Sebagian dari mereka selain bertani menambah penghasilan menjadi porter para pendaki gunung Semeru atau menjadi pemanudu wisata di Bromo. Mereka juga kerap menawarkan kuda tunggangan untuk disewakan pada para wisatawan yang ingin merasakan desir pasir Bromo yang liat.(*/M-1)

Kenang Majapahit di Museum Mpu Tantular

Kenang Majapahit di Museum Mpu Tantular

SEORANG kolektor berkebangsaan Jerman yang sudah menjadi warga Surabaya Van Faber mendirikan Stedelijk Historisch Museum karena jatuh cinta pada kebesaran Kerajaan Majapahit.

Upaya Van Faber untuk mendirikan museum ini sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 1922, tetapi baru sebelas tahun kemudian dapat diwujudkan. Museum ini dibuka secara resmi pada tanggal 25 Juni 1937.

Sejarah museum
Dalam perjalanannya, nama Stedelijk Historisch Museum Surabaya pada tahun 1972 diubah menjadi Museum Jawa Timur dan pada tanggal 1 November 1974 diresmikan dengan nama Museum Negeri Provinsi Jawa Timur Mpu Tantular.

Pemberian nama Mpu Tantular bagi museum ini adalah untuk mengabadikan pujangga besar Majapahit, pengarang kitab Arjunawijaya dan Sutasoma yang didalamnya terkandung falsafah Bhineka Tunggal Ika yang selanjutnya dijadikan semboyan bangsa Indonesia.

Koleksi
Koleksi museum ini berjumlah kurang lebih 15.000 buah yang digolongkan menjadi koleksi geologi, biologi, etnografi, arkeologi, sejarah, numismatik, heraldik, filologi, keramik, seni rupa dan teknologi.

Seluruh koleksi yang dipamerkan di ruang pameran tetap museum terdiri dari koleksi yang terbagi dari zaman prasejarah, klasik (Hindu-Budha), zaman Islam, kolonial dan zaman modern, termasuk di dalamnya koleksi ilmu pengetahuan dan teknologi. (OL-08)

Jam buka museum
Selasa s/d Kamis : pukul 08.00 s/d 15.00 WIB
Jumat : pukul 07.00 s/d 14.00 WIB
Sabtu :pukul 08.00 s/d 13.30 WIB
Senin : tutup

Harga tiket masuk
Dewasa : Rp 1.500,-
Anak-anak : Rp 1.000,-
Rombongan (minimal 10 orang)
Dewasa : Rp 1.000,-
Anak-anak : Rp 500,-

Transportasi
a. Dari Bandara Udara Juanda : 15 Km
b. Dari Pelabuhan Laut Tanjung Perak : 50 Km
c. Dari terminal bus Bungur Asih : 10 Km
d. Dari Stasiun KA : 35 Km