Pulau Sumba, Tawaran Berwisata ke Masa Silam

Pulau Sumba, Tawaran Berwisata ke Masa Silam

Foto-foto: Istimewa PASIR PUTIH – Pantai Rua, sekitar 20 km dari Kota Waikabubak, Sumba Barat, NTT, menawarkan panorama pantai yang berpasir putih. Pantai yang masih jauh dari keramaian ini belum dijamah secara profesional sebagai objek wisata (atas).

WAIKABUBAK – Ketika menjejakkan kaki di perkampungan tua di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) sesaat bayangan kehidupan modern seolah lenyap. Kenyataan di depan mata menunjukkan sisa kehidupan dari masa prasejarah, zaman megalit. Sumba memberikan panorama kontras yang unik. Di satu sisi, tawaran dunia modern tak terelakkan dan terpaksa berhadapan dengan warisan tradisi masa lalu yang sangat kental di sisi yang lain.

Sumba ternyata bukan sekadar padang sabana, yang akrab dengan ringkikan kuda sandel. Juga, bukan sekadar menawan mata ketika kaum pria mempertontonkan kemahiran berkuda, dengan tubuh duduk tegap di punggung kuda mengiring ternak gembalaannya.
Sekilas, hamparan sabana menunjukkan kegersangan di saat kemarau atau tak lebih dari padang rumput hijau di saat musim hujan. Tapi, sabana itu merupakan sumber makanan ternak bagi kaum peternak. Untuk itu, wilayah Sumba Timur dijuluki sebagai “matawai amahu pada jara hamu” atau “mata air yang bagus bagi peternakan kuda”. Sementara Sumba Barat menegaskan sebagai daerah sabana dengan julukan “pada eweta manda elu” atau “padang rumput yang hijau”.
Pulau yang dikenal sebagai Pulau Sandelwood ini menyimpan situasi kontras yang tampak di Waikabubak, Ibukota Kabupaten Sumba Barat. Sepintas, kota ini tak berbeda dengan kota kabupaten lain di NTT. Sejumlah ruas jalan sudah licin berlapis hotmix, yang meliuk-liuk di bawah perbukitan. Namun, kalau kaki berbelok arah untuk menapaki bukit, di sana akan ditemui kehidupan dengan deretan rumah tradisional yang seolah tak terjangkau perubahan zaman.
Di kota ini, ada sejumlah kampung tua yang bisa dinikmati keasliannya, seperti Kampung Tarung, Tambelar, Dessa Elu, Bodo Ede, dan Kampung Paletelolu. Kampung Tarung, misalnya, merupakan kampung tua yang terletak persis di jantung kota. Sama dengan yang lain, kampung ini dipenuhi dengan deretan rumah menara beratap ilalang, rumah tradisional khas Sumba.
Rumah tradisional Sumba terdiri dari tiga bagian. Lantai paling dasar merupakan kandang ternak (kuda). Kemudian, lantai dua merupakan tempat keluarga, tempat tidur dan perapian terletak persis di bagian tengah. Sedangkan, bagian menara merupakan gudang atau tempat menyimpan persediaan pangan.
Untuk menuju ke lantai dua terdapat dua pintu. Fungsi dari setiap pintu terkait erat dengan polarisasi gender. Pintu utama biasanya diperuntukkan bagi tamu dan kaum lelaki. Sedangkan pintu belakang digunakan untuk aktivitas yang melekat dengan kaum perempuan. Pintu belakang ini boleh dikatakan menjadi pintu kaum perempuan. Pada masa lalu, sangat pantang bagi kaum perempuan untuk masuk melalui pintu kaum pria. Tapi, kini kedua pintu itu bisa dilalui kaum pria maupun perempuan tanpa harus merasa bersalah.
Nuansa masa lalu kian sempurna ketika rumah tradisional itu berpadu dengan kuburan batu, yang mengingatkan kehidupan masa megalitikum—zaman batu besar—salah satu babak zaman prasejarah. Tak salah lagi, Sumba merupakan sorga bagi peneliti megalit.
Di setiap sudut kota dan kampung begitu mudah Anda menemukan menhir—batu besar seperti tiang atau tugu yang ditegakkan di tanah, sebagai tanda peringatan dan lambang arwah nenek moyang. Begitu juga dolmen—monumen prasejarah berupa meja batu datar yang ditopang tiang batu, dalam berbagai ukuran sangat mudah dijumpai di setiap kampung.
Tapi, dalam satu dasawarsa terakhir, kebiasaan untuk menarik batu kubur yang menyerupai meja batu itu kian meredup, kalau tidak mau dikatakan hilang. Pada masa lalu, orang Sumba yang sudah berusia lanjut akan memikirkan, di mana harus dikubur ketika meninggal. Untuk itu, semasa hidup, ia akan membuat batu kubur yang melibatkan ratusan orang selama berhari-hari.
Memang, menyiapkan satu kuburan batu bukanlah perkara gampang, karena membutuhkan pengorbanan materi yang cukup besar. Rupanya, faktor materi ini menyebabkan orang lebih memilih untuk membuat kuburan dari beton daripada harus menarik batu kubur dari jarak sekitar 2 atau 3 km yang menelan anggaran cukup besar.

Marapu
Berbagai ornamen masa lalu itu tidaklah berdiri sendiri, melainkan terkait erat kehidupan sebagian masyarakat Sumba yang menganut agama tradisional Marapu. Marapu merupakan agama asli orang Sumba sebelum disentuh pengaruh agama Kristen. Kini, komunitas Marapu semakin terdesak seiring tak ada jaminan dari negara akan eksistensi dari keyakinan di luar enam agama resmi negara.
Meski tanpa pengakuan dari negara, komunitas Marapu tetap eksis dalam menjalankan upacara keagamaan, termasuk upacara kelahiran, perkawinan, kematian, dan syukuran. Bahkan, komunitas Marapu di wilayah Kota Waikabubak mengenal adanya wula podu (bulan suci) selama satu bulan sekitar Oktober dan November setiap tahun.
Penentuan bulan suci itu tidak berdasarkan kepada kalender masehi, tapi berdasarkan perhitungan tetua adat, dengan mengacu kepada gejala alam dan benda langit, terutama bulan. Tidak adanya waktu yang tetap membuat upacara ini sulit masuk dalam jadwal kunjungan wisata.
Upacara wula podu ini diselenggarakan di tiga kampung utama, yakni di Wee Bangga (sekitar 15 km dari Waikabubak), Kampung Bodo Maroto (sekitar 3 km dari Waikabubak) dan Kampung Tarung. Selama bulan suci itu, sama sekali tidak diperkenankan adanya pesta, termasuk menabuh gong. Praktis, selama bulan suci hanya gong dari ketiga kampung itu yang boleh ditabuh untuk mengiringi upacara keagamaan.
Bahkan, komunitas Marapu yang meninggal dalam bulan suci langsung dikubur tanpa upacara yang lazim dilakukan bagi orang meninggal. Tapi, setelah melewati bulan suci keluarga si mati bisa menggelar upacara resmi, yang biasanya ditandai dengan pemotongan ternak.
Pada saat wula podu itu, semua suku (kabisu) akan berkumpul di rumah induk masing-masing untuk melakukan upacara sekaligus menjadi ajang pertemuan keluarga. Pada umumnya, semua rumah adat yang di Kampung Tarung merupakan rumah utama dari setiap suku.
Upacara puncak wula podu diwarnai dengan berbagai tarian adat yang ditarikan seharian penuh, dari pagi hingga petang. Semua tarian itu hanya bisa disaksikan sekali dalam setahun (saat wula podu). Para penari baik kaum pria maupun perempuan mengenakan perlengkapan adat resmi. Selain diiringi gong, para rato (tetua adat) juga silih berganti melantunkan syair-syair adat yang ditujukan kepada pencipta.
Selain upacara wula podu, komunitas Marapu di Sumba Barat juga mempunyai upacara adat pasola, yang sangat atraktif. Sama dengan wula podu, pagelaran pasola dilakukan berdasarkan perhitungan kaum tetua adat. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi wisatawan untuk merencanakan perjalanan.

Pesona Budaya
Pasola merupakan perang berkuda yang melibatkan dua kelompok besar pasukan berkuda dan saling menyerang dengan senjata lembing kayu. Pasola digelar sekali dalam setahun, antara Pebruari dan Maret di empat wilayah di Sumba Barat, yakni di Wanokaka, Lamboya, Gaura dan Kecamatan Kodi.
Kecuali wula podu dan pasola, upacara kematian dan perkawinan juga menyimpan pesona budaya tersendiri. Seseorang yang meninggal dunia, tidak akan serta merta dikuburkan. Tapi, bisa dibiarkan antara tiga sampai satu pekan di rumah sebelum dimakamkan. Setiap hari, keluarga duka harus menjamu tamu yang melayat dengan makanan dan minuman.
Pada hari pemakaman, sejak subuh tetua adat sudah menyampaikan doa dan syair adat bagi kemuliaan roh si mati. Penyampaian doa itu diiringi dengan tabuhan gong berirama sendu, yang bisa membangkitkan perasaan duka mendalam. Sebelum pemakaman, akan dilakukan pemotongan ternak dengan jumlah yang sesuai dengan kemampuan keluarga duka.
Hanya saja, pemotongan ternak itu sangat jauh dari perhitungan ekonomis. Bahkan, sekitar akhir dekade 1980-an, Pemda Sumba Barat pernah mengeluarkan kebijakan untuk membatasi pemotongan ternak maksimal lima ekor. Pasalnya, ketika itu Pemda menyaksikan pemotongan ternak yang sangat berlebihan.
Upacara perkawinan, juga tidak kalah menyimpan daya tarik. Namun, ini membutuhkan keberuntungan wisatawan untuk menyaksikan upacara perkawinan, terutama ketika terjadi pembicaraan mengenai belis (mas kawin). Sebab, belis dalam rupa ternak itu bisa mencapai puluhan ekor kuda, kerbau dan sapi yang harus diserahkan ke keluarga perempuan. Apalagi, kalau perkawinan itu melibatkan kaum “darah biru”.
Namun, mas kawin yang besar itu, biasanya mendapat imbalan yang setimpal dari pihak perempuan berupa kain dan perhiasan. Faktor keseimbangan ini biasanya sangat terjaga, guna menghindari dominasi dari satu pihak.

Pesona Alam
Pulau Sumba sesungguhnya bukan hanya menawarkan wisata budaya. Pesona alamnya pun tak kalah memikat. Setelah letih menyaksikan objek budaya, wisatawan bisa menyegarkan diri dengan menyaksikan air terjun di Weikelo Sawah, sekitar 9 km dari Waikabubak. Air terjun yang pernah dimanfaatkan sebagai sumber listrik itu menawarkan panorama yang alami, dengan sumber air dari gua yang cukup besar. Bila masih tertarik dengan air terjun, wisatawan bisa bergerak ke arah selatan Kota Waikabubak (sekitar 20-an km), di sana terdapat air terjun Laikanino, yang juga menawarkan pesona alam yang lain.
Wisatawan yang tertarik untuk menyaksikan laut, ada sejumlah pantai yang berpasir putih, terutama di pantai selatan. Seperti, pantai Rua (20 km dari Waikabubak), Wanokaka (15 km dari kota), Nihiwatu (25 km dari kota) dan Marosi sekitar 35 km dari kota. Panorama di sana dijamin masih asli, dan belum tersentuh polusi apa pun. Bahkan, nyaris tak ditemukan adanya sampah plastik. Garis pantai memanjang, berpasir putih dan air laut biru bening merupakan kekhasan pantai selatan.
Laut pantai selatan terkadang menunjukkan perangai yang tenang dan bersahabat. Tapi, terkadang perangai itu berubah menjadi gulungan ombak yang menawarkan tantangan kepada peselancar untuk menaklukkannya.
(Sinar Harapan/daniel duka tagukawi)

Pulau Sepa, Demi Wisata Domestik

Pulau Sepa, Demi Wisata Domestik

Wisatawan ialah orang yang bepergian dari tempat tinggal ke suatu tujuan di mana dia menginap lebih dari satu hari, tidak untuk bekerja atau berpenghasilan setempat. Itu rumusan praktis mengenai wisatawan.
Motivasi dan tujuannya bermacam: liburan, kunjungan keluarga, menghadiri konperensi, urusan bisnis dan lainnya. Kalau bepergian hanya satu hari, tergolonglah ia sebagai piknik, rekreasi, atau melancong.

Pulau Sepa, yang trade-mark-nya Sepa Island Resort dengan fasilitas hotel dan berbagai sarananya, kita ambil sebagai model. Pulau resor ini memang pantas untuk pelancong, piknik, tetapi juga wisnus bahkan wisman.
Telah sejak tahun 1984 dioperasikan. Terdapat 38 kamar berbentuk single bungalow, couple bungalow dan lodges, setiap kamar bisa mengakomodasi empat tempat tidur. Tiga boat masing-masing bisa mengangkut 40 orang dan satu boat lagi dengan kemampuan angkut 16 orang, disediakan untuk melayani tamu-tamunya.
Berangkat setiap hari pukul delapan pagi dari pantai Ancol, Jakarta, tiba di Pulau Sepa pukul 10. Untuk kembali ke Jakarta, jadual berangkatnya dari pulau itu setiap hari pukul dua siang.
Siapa sajakah yang berwisata ke pulau ini? Ternyata, 50 % warganegara Indonesia, 50 % warganegara asing, yang kebanyakan expatriates yang tinggal di Jakarta. Padahal sebelum peristiwa 11 September, wisman dari Eropa menjadi pelanggannya. Sejak akhir tahun lalu mulai disasarnya kategori wisnus dan expatriates di luar Jakarta. Pengelola ”Sepa Island Resort” tampak aktif melakukan promosi ke luar Jakarta, termasuk Debotabek (Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi), sampai Jawa Timur dan pulau Bali. Spesifik apakah yang ditawarkannya?
Di antara gugusan Kepulauan Seribu di teluk Jakarta, di pulau ini pantai pasir putihnya paling kondusif untuk dinikmati orang bersantai, berjemur, mandi laut. Di sekelilingnya terdapat diving-spot. Hijaunya pulau ini dengan rimba kecil, membuat pengunjung menikmati back-to-nature.
Fasilitas olahraga volley, badminton, tennis meja dan aktifitas di laut dengan banana-boat, jetski, glass-bottom-boat, water-ski dll. tersedia.
Ada suguhan tari-tari tradisional di malam akhir pekan. Dan, setiap karyawan resort tampak bermotivasi kuat memberi pelayanan yang personalized.
Akhir pekan tentu saja cenderung fully-booked. Karenanya kini wisnus dan wisman yang disasar adalah demi mengisi hari-hari biasa atau weekdays.
Pantas dicoba mengunjunginya, sebagai wisnus maupun pelancong rekreasi.***

Sumber: Sinar Harapan

Tebaran Pesona di Raja Ampat

Tebaran Pesona di Raja Ampat

Tak perlu repot-repot tebar pesona, alam memang sudah melukiskan tebaran panorama yang memesona di Raja Ampat. Kawasan di Papua Barat ini menyuguhkan terumbu karang nan luas dan indah, lengkap dengan biota laut yang komplet. Belum lagi burung-burung cantik di daerah hutannya, dan tentu saja kebersahajaan masyarakatnya.

Kekaguman berkali-kali pada ekspresi wajah cantik Nadine Chandrawinaa sewaktu bercerita tentang pengalamannya menyelam di Raja Ampat. Bagi Putri Indonesia 2005 ini panorama bawah laut di Raja Ampat adalah yang terbaik di dunia.

Penilaiannya memang sangat tidak berlebihan ketika GHS baru-baru ini sempat merasakan sendiri kecantikan alam bawah laut di Raja Ampat. Pantas saja kebanyakan orang yang tergila-gila pada dunia selam, merasa belum “hidup” kalau belum menyelami lautan di Papua Barat ini.

Surga penyelam

Kebanyakan orang mungkin masih membayangkan Papua dengan kebudayaannya yang sederhana. Begitu mendengar kata Papua, yang terlintas biasanya koteka yang unik, tas tradisional noken, lalu sumber daya alamnya yang melimpah seperti emas, perak, tembaga, dan kayu gaharu. Kekayaan Papua tentu saja jauh lebih banyak dari itu.

Bagi para pencinta dunia bawah laut, Papua adalah surga penyelaman yang menyajikan kekayaan biota laut yang mengagumkan. Tak salah Nadine dan banyak penyelam yang lain selalu terkagum-kagum bila bertutur tentang keindahan alam yang disuguhkan di pulau kepala burung ini. Penggemar snorkeling dan diving memang dijamin tidak akan kecewa. Sebaliknya, mereka bakal terpanggil untuk datang dan datang lagi.

Hasil survey Conservation International (CI) yang dilakukan tahun 2001 dan 2002 pun menyatakan, kawasan ini memiliki setidaknya 1.300 spesies ikan, 600 jenis terumbu karang, serta 700 jenis kerang. Belum lagi berbagai jenis kura-kura, ganggang, dan ubur-ubur. Beberapa spesies koral baru juga bisa ditemukan di sini.

Sebetulnya tak hanya penyelam yang bisa mendapatkan kepuasan tamasya di Raja Ampat. Untuk penggemar memancing, di sini bisa dibilang surga. Begitu berlimpah ikan yang bisa menjadi sasaran, sampai-sampai mata pancing tak bisa beristirahat.

Anda yang tidak tertarik menyelam, hamparan laut biru yang membiaskan keindahan langit, taburan pasir putih yang memancarkan kilaunya bagaikan mutiara, bisa dinikmati. Selain itu, masih ada gugusan pulau-pulau yang memesona dan flora serta fauna unik seperti cenderawasih merah, cenderawasih Wilson, maleo waigeo, beraneka burung kakatua dan nuri, kuskus waigeo, serta beragam jenis bunga anggrek.

Tarian cenderawasih

Kampung-kampung wisata juga bertebaran di Raja Ampat. Datang saja ke Kampung Arborek yang dikenal sebagai pulau dengan penduduk yang ramah. Di sini Anda bisa belanja oleh-oleh berupa noken (tas khas Papua) dan topi yang terbuat dari anyaman daun pandan.

Ada juga kampung Sauwandarek yang eksotik dan tertata rapi. Kita dapat menemukan kegiatan menarik di pulau, pantai, maupun lautnya. Anda harus snorkeling atau diving di sini atau akan menyesal bila dilewati. Kalau tak suka menyelam, di dermaga kita juga bisa melihat barisan bebek laut yang berenang di pantai.

Untuk menyaksikan langsung maskot asli Papua, apalagi kalau bukan cenderawasih, datanglah ke kampung Sawinggrai. Dengan mendaki bukit Manjai, kita akan mendapati sebuah gubuk beratap ilalang tempat menikmati tarian Cenderawasih. Kita juga bisa menikmati keindahan matahari terbenam (sunset) atau terbitnya sang mentari (sunrise) sambil memberi makan ikan di dermaga.

Terasa sensasi yang menyenangkan ketika tangan yang penuh makanan ini dicelupkan ke air dan ikan-ikan pun berebut menghampiri. Jika beruntung Anda akan menjumpai hiu bodoh (walking shark) yang sangat langka sedang berjalan dengan menggunakan siripnya di pantai.

Ingin menemukan aktivitas burung yang lebih banyak lagi? Datanglah ke kampung wisata Yenwaupnor. Di sini Anda bisa menyaksikan aktivitas burung beo, pekakak, elang, enggang, lorikeets, atau parkit yang memiliki bulu-bulu berwarna-warni bagai pelangi.

Masih ada lagi kampung Yenbuba, yang memiliki penduduk paling sedikit daripada kampung wisata lainnya. Pesona hamparan pasirnya hingga deretan karangnya hampir selalu menjadi magnet bagi para wisatawan yang mendambakan ketenangan dan kesunyian sebuah pulau surgawi. Di sini tersebar gugusan karang yang terhampar luas dan dapat dinikmati dengan snorkeling saja.

Pin tanda masuk

Di kawasan wisata Raja Ampat, para wisatawan dapat memperoleh fasilitas yang memadai di beberapa resor yang ada, seperti di Pulau Kri, Waigeo, Mansuar, serta Misool. Beberapa resor menetapkan harga relatif mahal karena menyuguhkan fasilitas lengkap. Wisatawan dengan biaya terbatas juga dapat memanfaatkan resort milik pemerintah yang jauh lebih murah di daerah Waisai, ibu kota Raja Ampat.

Sebagai daerah kepulauan, satu-satunya transportasi antarpulau dan penunjang kegiatan masyarakat adalah angkutan laut. Luas wilayahnya lebih kurang 46.000 kilometer persegi. Sekitar 85 persen merupakan luas laut. Sisanya, sekitar 6.000 kilometer persegi, merupakan daratan.

Kabupaten ini memiliki 610 pulau. Empat di antaranya, yakni Pulau Misool, Salawati, Batanta, dan Waigeo, merupakan pulau-pulau besar. Dari seluruh pulau, hanya 35 pulau yang berpenghuni. Pulau lainnya tidak berpenghuni dan sebagian besar belum memiliki nama.

Untuk berkeliling pulau yang diinginkan, kita dapat menyewa speedboat kapasitas 10 orang dengan harga Rp 3-5 juta per 8 jam, tergantung kepandaian kita menawar. Kita juga bisa mengambil paket wisata.

Untuk masuk ke kawasan Raja Ampat, setiap orang harus membayar biaya masuk sebesar Rp 250 ribu untuk wisatawan domestik, dan Rp 500 ribu untuk wisatawan dari mancanegara. Sebuah pin bulat yang berfungsi seperti identitas ini akan kita terima, setelah membayar biaya tersebut.

Uniknya, pin ini berlaku untuk satu tahun, sejak 1 Januari hingga 31 Desember. Jadi jika dalam satu tahun itu kita bolak-balik mengunjungi Raja Ampat, hanya perlu membayar biaya masuk satu kali saja. Tentu saja pin tadi tidak boleh hilang dan harus kita kenakan sebagai tanda pengenal.

Sumber: Senior

Wisata Alam di Pulau Tengah, Menunggu ‘tuk Dinikmati

Wisata Alam di Pulau Tengah, Menunggu ‘tuk Dinikmati

SAWAH – Persawahan masih menghampar luas di sebagian besar wilayah desa Pulau Tengah, diselingi dengan lumbung di sana-sini. Rugi rasanya bila tak sempat menikmatinya.

JAMBI—Ibarat gadis perawan malu-malu, Kabupaten Merangin, Jambi, ternyata menyimpan banyak potensi wisata alam. Paling tidak, itu yang sempat tertangkap oleh tim perjalanan ekspedisi arung jeram Mapala UI – Sinar Harapan, di Kabupaten Merangin, 6 – 20 Agustus lalu.

Desa Pulau Tengah merupakan desa terbesar dan terluas di Kecamatan Jangkat. Mata pencaharian penduduk umumnya bertani, dengan tambahan usaha berkebun. Tetapi bukan hanya itu yang membuat desa ini istimewa. Sebab ternyata desa ini juga menyimpan banyak jenis wisata yang menarik, di antaranya panorama desa, serta tiga danau dan air terjun Mentalun.
Mengenai panorama desa, bisa dikatakan desa ini merupakan salah satu desa terindah di pertiwi ini. Persawahan yang menghampar dengan lumbung-lumbung padi. Hutan yang masih ijo royo-royo (hijau), lengkap dengan sungai yang mengalir jernih di dalamnya.
Menikmati pemandangan alam desa, seperti tak ada habis-habisnya mentahbiskan keindahannya. Semua seperti gambaran kita pada kerinduan alam pedesaan.
Bila ingin menambah kekaguman lagi mengenai keindahan wisata di sini, bisa juga kita menyempatkan diri menyinggahi ketiga danau di sekitar desa. Ketiganya biasa dikenal dengan nama Danau Dipati Empat (Gedang), Danau Pauh dan Danau Kecil (Kecik).
Dipati Empat merupakan danau terbesar diantara ketiga danau tersebut. Terletak di bagian barat desa, berjarak sekitar empat jam perjalanan. Namun disarankan bagi Anda yang ingin pergi ke danau ini, agar mempersiapkan perjalanan sebaiknya karena masih sulitnya jalur yang harus ditempuh.
Dua danau lainnya, biasa disebut penduduk sekitar dengan nama Danau Pauh dan Danau Kecik. Danau Pauh dan Danau Kecik terletak berdekatan di bagian utara desa. Berada di kilometer 4 dan dapat ditempuh dengan mobil atau ojek selama 30 menit perjalanan dari desa.
Dari penuturan masyarakat sekitar, disebut Danau Pauh karena dahulu banyak pohon Pauh di sekitar pinggiran danau. Pohon Pauh ini menurut mereka, berbuah mirip mangga, dengan getah di sana-sini.
Danau Kecik juga ternyata tak kalah berseleranya untuk didatangi. Danau terkecil di antara ketiga danau tadi, juga menyimpan aset berharga sebagai daerah tujuan wisata. Letaknya dikelilingi hamparan sawah yang tertata rapih dengan sistem terasiring, malah membuat danau ini laksana colloseum di Roma.
Tak terbayangkan indahnya, bila padi yang terdapat di sekeliling danau kecil tersebut mulai menguning. Pasti pemandangan yang tercipta sulit tertandingi oleh bagian manapun di dunia ini.

Mentalun
Aset wisata lain yang tampaknya belum juga tergali adalah air terjun Mentalun yang bertingkat dua. Bagian air terjun yang bawah setinggi 40 meter. Dengan air yang jatuh jernih di atas kolam selebar enam meter. Menurut informasi penduduk yang sempat menemani kami melihat tempat itu, masih terdapat banyak ikan di bawah air terjun tersebut.
Namun hingga kini beberapa masalah masih melingkupi potensi wisata ini. Seperti sulitnya jalan masuk menuju Danau Dipati Empat dan air terjun Mentalun. Karena kita harus berjalan kaki paling tidak sejauh empat jam menuju ke sana.
Kesulitan ini kemudian ditambah dengan belum maksimalnya pembangunan sarana transportasi menuju lokasi. Ini terlihat dari jalan yang digunakan untuk menuju Danau Pauh dan Danua Kecik. Dimana terlihat banyak jalan yang berlubang dan tak teraspal, sehingga bisa menyebabkan mobil–mobil jenis tertentu seperti sedan kandas sebelum mencapai lokasi.
Ketiga aset tersebut sebenarnya merupakan potensi wisata yang sangat berpeluang untuk meningkatkan pendapatan daerah.
Tinggal bagaimana pemerintah daerah memanfaatkannya semaksimal mungkin. Aset ini kini ibarat gadis yang malu-malu, namun sebenarnya menunggu untuk disunting.

Oleh: Sulung Prasetyo/Hendro Bakti [Sinar Harapan]

Goresan Indah Banda Neira

Goresan Indah Banda Neira

Air laut jernih, halus pasir pantai putih, dan keindahan taman bawah laut menjadikan Kepulauan Banda obyek wisata lengkap.

Salah satu daya tarik pariwisata Kepulauan Banda adalah keindahan taman lautnya, yang bertebaran jauh di kedalaman. Tak salah memang jika taman taut di Kepulauan Banda menjadi magnet kuat menjadi daya pikat wisatawan, khususnya penggemar olahraga menyelam. Terumbu karang yang tersebar di kepulauan ini adalah yang terkaya di dunia. Dari 700 jenis karang di dunia, sekitar 432 jenis karang (64 persen) terdapat di Kepulauan Banda. Sungguh potensi yang menakjubkan.

Banda secara administratif masuk dalam Kabupaten Maluku Tengah. Ada tiga pulau besar dari 11 pulau yang terdapat di sini. Ketiga pulau tersebut adalah Pulau Neira, Pulau Banda Besar, dan Pulau Gunung Api. Tujuh pulau sisanya merupakan pulau-pulau kecil, yang memiliki pantai indah dan berpasir halus.

Setidaknya terdapat sekitar 52 lokasi penyelaman di sini. Setiap titik penyelaman memiliki keindahan dan kekayaan biota laut yang tidak terdapat di tempat lain. Beberapa referensi menyarankan, jika ingin menyelam di kepulauan ini waktu yang tepat adalah pada Maret-April atau September-Oktober, saat ombak dan angin laut bersahabat.

Sonegat Arm, merupakan salah satu dive site terdekat dari Kota Banda Neira. Kawasan ini terletak antara Pulau Neira dan Pulau Gunung Api. Ikan-ikan penghuni lokasi ini antara lain emperor angelfish dan blue girdled. Selain itu Keraka Island, pulau ini pun memiliki pantai yang menakjubkan. Di lokasi ini terdapat large blue dan yellow tunicates yang menutupi sebuah mini-wall setinggi 18 meter.

Sementara jika menyelam di lokasi Batu Belanda, selain keindahan barrel, tube sponge, beragam jenis ikan dari kelompok large emperor, blue girdled angelfish, wrasses, large pinnate batfish, akan menjadi teman yang menyenangkan.

Lokasi lain yang juga kaya jenis ikan terdapat di Pulau Hatta. Ikan-ikan cantik seperti rainbow runners, unicornfish, fusiliersm jack fish, bisa dijumpai di sini. Terdapat juga dari jenis whitetip sharks, napoleon wrasse, dan hawksbill turtles.

Di pulau yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Pulau Banda-Neira ini terdapat skaru atoll. Masih banyak lagi lokasi penyelaman yang menawarkan permadani bawah air seperti di Pulau Sjahrir, Pulau Ay, Pulau Lontar, dan Pulau Gunung Api.

Bukan hanya taman bawah air yang di miliki Banda, kepulauan yang terletak di sebelah tenggara ibukota Maluku ini memiliki daratan yang subur. Bangsa-bangsa Eropa sudah mengetahui kekayaan alam kepulauan Banda sejak abad ke-15 silam.

Keberadaan rempah-rempah yang melimpah di sini, jadi salah satu alasan utama para pelaut dari belahan dunia lain rela menerjang badai dan ombak besar menuju Kepulauan Banda. Nama Banda pun kemudian kondang sebagai tempat penghasil rempah-rempah nomor wahid di dunia.

Di abad pertengahan, Banda menjadi pusat rempah-rempah, ini membuat bangsa- bangsa Eropa rela menjaganya mati-matian agar tak jatuh ke bangsa lain.

Orang-orang Portugis menjadi bangsa Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di sini. Mereka menjadi arsitek awal pembangun kawasan Banda. Kolonial Belanda kemudian melanjutkannya dengan konsep gaya Eropa.

Jejak-jejak peninggalan para pemburu rempah-rempah itu masih bisa disaksikan hingga saat ini. Kokohnya benteng-benteng pertahanan di kepulauan ini menjadi bukti, begitu pentingnya kawasan ini di mata bangsa Eropa kala itu, saat masa Gold-Glory-Gospel.

Beberapa peninggalan masa penjajahan yang masih bisa disaksikan antara lain Benteng Nassau. Awalnya, pondasi Benteng ini dibangun orang-orang Portugis pada 1609. Sebelum rampung membangun benteng, Portugis keburu diusir Belanda. Pembangunan benteng ini pun dilanjutkan Belanda pada 1617.

Satu lagi benteng yang masih terjaga baik, Benteng Belgica, namanya. Keindahan benteng yang dibangun Pieter Both ini banyak membuat wisatawan mancanegara kagum dengan bentuk arsitekturnya yang berbentuk segi lima. Selain kedua benteng itu, terdapat ada pula benteng Hollandia di Pulau Lontar dan Benteng Revenge yang berlokasi di Pulau Ay.

Bangunan yang tak kalah menarik untuk dikunjungi adalah Istana Mini. Pada masa lalu, Bangunan ini digunakan sebagai tempat tinggal para petinggi VOC dan NHM. Didirikan pada 1622, Istana Mini berfungsi sebagai gudang penyimpanan rempah-rempah.

Banda masih memiliki rumah-rumah bekas peninggalan zaman penjajahan. Salah satunya, bangunan tua yang sekarang digunakan sebagai Kantor Polisi Sektor Pulau-Pulau Banda. Kondisi bangunan ini masih terawat baik. Terdapat pula sebuah gereja tua yang dibangun Mauritz Vantzius dan Johan Wilhelm Hoeke. Masa pembangunan gereja ini dimulai 20 April 1873 hingga 23 Mei 1875.

Pada awal 1900-an, Banda Naira (kadang disebut “Neira”) pun dijadikan sebagai tempat pengasingan pejuang kemerdekaan. Tokoh-tokoh bangsa yang pernah dibuang di sini adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dr Cipto Mangunkusumo (1928), Iwa Kusumasumantri (1930), serta beberapa anggota organisasi Sjarikat Islam (SI) pernah merasakan masa getir di tempat pembuangan ini.

Rumah pengasingan para pejuang bangsa itu menjadi saksi bisu sejarah Banda Neira dan negeri ini. Beragam cerita duka dan perjuangan tersimpan apik di rumah-rumah bekas tempat pengasingan tersebut. Kini, lokasi-lokasi tersebut menjadi obyek wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi.

Aktivitas wisata alam lain yang tak kalah menarik untuk di coba adalah mendaki Gunung Api yang berada di Pulau Gunung Api. Meski hanya memiliki ketinggian kurang dari 1.000 meter, gunung ini tetap punya daya tarik dan cukup menantang untuk ditaklukkan. Anda tertantang mencumbui di alam indah kepulauan ini?

Sumber: Majalah Travel Club