Museum Mulawarman

Museum Mulawarman

Bangunan yang sekarang menjadi Museum Mulawarman dulunya adalah istana dari Kesultanan Kutai Kartanegara. Istana ini dibangun pada 1963 sebagai pengganti istana sebelumnya yang terbakar.

Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri sejak awal abad ke-13 dengan Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325) sebagai raja pertama.

Seiring dengan masuknya agama Islam di kalangan kerajaan, gelar pemimpin tertinggi pun berubah menjadi sultan. Sultan Aji Muhammad Idris (17351778), adalah sultan pertama yang menggunakan nama Islam.

Museum Mulawarman menyimpan semua benda-benda sejarah yang pernah digunakan Kesultanan Kutai Kartanegara. Koleksi yang tersimpan seperti Singgasana, Tempat Peraduan, Pakaian Kebesaran, Tombak, Keris, Meriam, Kalung, dan Prasasti Yupa.

Wisata sejarah kerajaan tertua di Indonesia inipun dapat ditelusuri dengan mengunjungi situs yang berada di desa Muara Kaman Hulu, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Salah satunya koleksi yang bisa di saksikan adalah Prasasti Yupa berupa lesung batu, serta batu memanjang dengan penuh tulisan-tulisan palawa kuno.

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Nasional Wajah Budaya Indonesia

Museum Nasional Wajah Budaya Indonesia

Usianya tidak lagi muda. Dua abad lebih museum ini usianya. Museum Nasional menjadi museum tertua di Tanah Air dan menjadi referensi tepat untuk mengetahui kekayaan di Nusantara.

Kali ini, penjelajahan sejarah Nusantara bersandar di Museum Nasional. Keberadaan museum yang juga terkenal secara internasional itu, tak terlepas dari peran serta sebuah perhimpunan penelitian Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, yang didirikan Pemerintah Belanda, 24 April 1778.

Kelompok ini merupakan suatu lembaga independen yang dibuat dengan tujuan untuk memajukan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah, serta menerbitkan hasil penelitian.

Semakin meningkatnya jumlah koleksi benda sejarah yang diteliti perkumpulan tersebut, membuat pemerintah Belanda akhirnya memutuskan untuk mendirikan sebuah museum. Kini, Museum Nasional berada di bawah naungan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan RI.

Museum Nasional ini terletak di Jalan Medan Merdeka Barat No. 12, Jakarta Pusat. Gedung peninggalan zaman kolonial Belanda ini menyimpan 141.899 benda, terbagi menjadi dua bangunan, yaitu gedung lama dan gedung baru. Di gedung lama terdapat ruang pameran Etnografi, ruang Perunggu, Prasejarah, Keramik, Tekstil, Numismatik, Relik Sejarah, Arca batu, dan ruang Khasanah.

Memasuki gedung lama berarsitektur Romawi kuno, pengunjung disuguhi pemandangan arca-arca yang tersebar di seluruh ruangan dan koridor. PeninggaIan arkeologi tersebut tidak lain adalah benda-benda hasil kebudayaan orang Indonesia, diambil dari abad ke-5 hingga abad ke-15 Masehi. Terdiri dari arca dewa-dewa Hindu dan Buddha, arca binatang, arca perwujudan, dan masih banyak lagi. Kebanyakan, arca tersebut ditemukan di pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Ada satu hal paling menarik perhatian pengunjung, yakni arca dengan tinggi hampir tiga meter. Patung batu itu digambarkan sebagai sosok laki-laki tegap berdiri, tepat dibawah kakinya terdapat tubuh dan tengkorak-tengkorak manusia. Laki-laki tersebut adalah sosok Raja Adityawarman yang memerintah Melayu pada 1347-1375. Ditemukan di Rambahan, Padangroco, Sumatera Barat di abad ke-14 Masehi.

Sementara, gedung baru terdiri dari empat lantai. Desain dalam gedung ini cukup menarik, tampak modern dan lebih tematis. Seperti di lantai satu, temanya adalah Manusia dan Lingkungan. Lantai dua, Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Ekonomi. Kemudian, lantai tiga, Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman. Lalu, lantai empat, Khasanah dan Keramik.

Museum dibuka pada Selasa-Jumat, mulai dari pukul 08.00 hingga pukul 16.00 dan Sabtu-Minggu, dari pukul 08.00 sampai dengan pukul 17.00. Museum Nasional ditutup untuk umum setiap hari Senin dan hari besar nasional atau keagamaan.

Untuk Ruang Khasanah Emas ditutup satu jam sebelum waktu tutup museum. Karcis masuk, dewasa Rp 750. Anak-anak dibawah umur 17 tahun dan pelajar Rp 250. Sebuah nilai tiket yang sangat murah dibandingkan pengetahuan yang bakal diperoleh di sana.

Di museum ini, Anda bisa menemukan kekhasan sekaligus keelokan paling berharga dari sebuah bangsa besar. Jadi, perluas wawasan Anda tentang Indonesia dengan berkunjung ke Museum Nasional.

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Kebangkitan Nasional: Pekik Nasionalisme Pada Mulanya

Museum Kebangkitan Nasional: Pekik Nasionalisme Pada Mulanya

Menjelang hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei, kurang pas rasanya bila tidak berkunjung ke Museum Kebangkitan Nasional. Apa sebab? Karena coretan sejarah mengenai pergolakan dan dinamika pemuda Indonesia merebut kemerdekaan dari tangan penjajah bermula di sini.

Mengawali keberadaannya, gedung museum ini merupakan sekolah kedokteran yang dibangun pemerintah Belanda bagi kaum bumiputera. Mereka menyebutnya STOVIA (School Tot Opleiding Van Indlandsche Arsten), resmi digunakan sejak 1901. Di tempat ini pula Boedi Oetomo mendeklarasikan diri sebagai organisasi kepemudaan dibawah pimpinan R. Soetomo, pada 20 Mei 1908.

Museum yang terletak di Jalan Dr. Abdul Rahman Saleh No.26, Jakarta Pusat ini, menyimpan banyak peninggalan berkaitan dengan kebangkitan nasional. Koleksinya mencapai 2.042 benda, terdiri dari bangunan, mebel, jam dinding, gantungan lonceng, perlengkapan kesehatan, pakaian, senjata, foto, lukisan, patung, diorama, peta, maket, sketsa, dan miniatur.

Sementara, gedung tersebut mempunyai tujuh ruang pamer, diantaranya Ruang Pengenalan. Ruangan ini berisi gambaran tentang masuknya bangsa barat di Indonesia, sampai munculnya perlawanan lokal maupun bersifat kedaerahan. Lalu, Ruang Awal Pergerakan Nasional. Di sini terdapat patung diorama berupa peragaan Klas STOVIA, pembelaan HF. Roll dan patung pelajar STOVIA dari seluruh Indonesia.

Kemudian, Ruang Kesadaran Nasional. Merupakan penggambaran perjuangan R.A. Kartini, Wahidin, Dewi Sartika, dan lainnya. Terdapat juga koleksi meja dan kursi makan pelajar STOVIA, serta peralatan kedokteran.

Ruang Pergerakan Nasional, terdapat cerita perjalanan awal pergerakan nasional di Indonesia, mulai dari berdirinya Boedi Oetomo, Indische Partij, Muhammadiyah, dan organisasi lainnya. Selain itu, ada diorama pertemuan Wahidin, Sutomo dan Suradji, diorama berdirinya Boedi Oetomo, foto-foto organisasi awal kebangkitan, vandel-vandel dan foto-foto organisasi pemuda.

Ruang Propaganda Studie Fonds. Adalah ruang pertemuan antara Dr. Wahidin Soediro Hoesodo dengan para pelajar STOVIA. Ruang itu terdapat koleksi lukisan perjalanan dan patung Dr. Wahidin, juga patung pelajar STOVIA.

Ruang Memorial Budi Utomo. Inilah ruang unggulan dari Museum Kebangkitan Nasional. Dulunya, ruangan ini adalah ruang praktek anatomi, kemudian berubah fungsi menjadi tempat lukisan Dr. Wahidin Soediro Hoesodo, koleksi kerangka manusia untuk praktek pelajar STOVIA, kursi Kuliah STOVIA, patung dada pendiri Boedi Oetomo, foto kegiatan pelajar STOVIA, serta situasi perkumpulan Boedi Oetomo dalam bentuk lukisan.

Terakhir, Ruang Pers. Di ruang ini tersimpan koleksi mesin tik, vandel berbagai macam alat cetak, tustel, foto-foto dan tokoh pers. Tercatat pula perjalanan pers Indonesia.

Museum tersebut buka dari Selasa-Jumat, pukul 08.30-15.00. Sabtu-Minggu, pukul 08.30-14.00. Tutup di hari Senin dan hari libur nasional. Karcis masuk dewasa sebesar Rp 750,- dan anak-anak Rp 250,-.

Tatkala para pahlawan berhasil mempersembahkan kemerdekaan untuk negeri ini, sudah sepantasnya kita menghargai jasa mereka walaupun hanya dengan berkunjung ke museum ini.

Sumber: Majalah Travel Club

Tetirah di Lereng Gunung Merapi

Tetirah di Lereng Gunung Merapi

Semula kawasan ini tempat peristirahatan para ahli geologi Belanda. Sekarang, keindahan alam dan kesejukan udara Kaliurang dapat dinikmati siapapun.

Beberapa ahli geologi Belanda yang bermukim di Yogyakarta, melakukan ekspedisi ke arah utara kota. Ekspedisi dilakukan untuk mencari daerah berudara sejuk yang akan dijadikan lokasi tetirah.

Setelah melakukan perjalanan melelahkan, meneer-meneer itu akhirnya sampai di lereng selatan Gunung Merapi. Disekitar ketinggian 900 di atas permukaan laut, mereka menyaksikan pemandangan alam yang menakjubkan.

Lukisan alam membentang dengan hamparan pepohonan nan menghijau. Kawasan ini akhirnya disepakati akan dijadikan sebagai lokasi peristirahatan dan tempat berlibur keluarga mereka.

Perjalanan sekelompok ahli geologi itu dilakukan sekitar awal abad ke-19. Kawasan yang dikenal dengan nama Kaliurang itu kemudian dibangun, berbagai sarana pendukung tempat peristirahatan pun didirikan.

Orang-orang Belanda mengawalinya dengan membangun 30 bungalo pribadi. Selain membangun bungalo, fasilitas lainnya pun dibangun. Akses jalan ke tempat-tempat yang memiliki sudut pandang menarik di sekitar kawasan dibuka. Inilah awal wilayah Kaliurang menjadi destinasi kawasan wisata.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, kompleks peristirahatan ini ditinggalkan para pemiliknya. Bungalo-bungalo kemudian berpindah tangan kepada orang-orang pribumi.

Dua tahun berselang, tepatnya 13 Januari 1948, kawasan Kaliurang dimanfaatkan sebagai tempat pertemuan antara pemerintah Indonesia dan Komisi Tiga Negara (KTN). Perundingan lni menghasilkan sebuah kesepakatan yang disebut Notulen Kaliurang.

Sekarang, Kaliurang telah menjadi salah satu destinasi liburan utama di Provinsi Yogyakarta. Dengan pemandangan alam yang memukau dan udara yang sejuk, berkisar antara 20-25 derajat Celcius, kawasan menjadi tempat cocok sebagai lokasi beristirahat, berlibur dan melepas lelah.

Satu yang tak pernah berubah, Kaliurang merupakan lokasi tepat sebagai tempat wisata keluarga. Dalam kawasan wisata yang terletak di Kabupaten Sleman ini terdapat sebuah taman rekreasi seluas 10.000 meter persegi. Taman ini cukup ideal sebagai lokasi berlibur bersama keluarga tercinta. Anak-anak dapat leluasa berlarian atau bermain.

Jika belum puas, lanjutkan perjalanan menuju ke arah timur laut, sekitar 300 meter dari lokasi taman, terdapat Taman Wisata Plawangan Turgo. Taman ini dilengkapi dengan fasilitas kolam renang mini yang airnya berasal dari mata air di lereng Bukit Plawangan, di antara kerimbunan pohon.

Bila ingin menikmati pemandangan Kaliurang secara menyeluruh, bisa berkeliling menggunakan kereta kelinci. Kendaraan ini biasa mangkal di depan taman wisata yang banyak terdapat dengan kios-kios penjaja makanan. Kereta yang biasa di sebut Sepoer akan mengajak berkeliling Kaliurang dari sisi timur ke barat. Melewati gardu pandang, dalam kondisi cuaca cerah pemandangan gunung merapi yang memukau akan tersaji secara jelas.

Bagi yang tertarik memantau Gunung Merapi bisa memanfaatkan menara pandang yang disediakan di sisi barat kawasan ini, pengunjung juga bisa menyewa teropong agar lebih dekat dan jelas memantau gunung yang terkenal masih aktif ini.

Suasanan malam hari disini tak kalah menarik, sejuknya angin dan heningnya malam akan menjadi teman yang cocok bagi yang tengah mencari kedamaian. Beragam tempat penginapan bisa dipilih, mulai kelas wisma hingga hotel berbintang di Kaliurang.

Berkunjung ke Kaliurang tak hanya bisa menikmati alam, pengunjung pun bisa berwisata budaya di Museum Ullen Sentalu. Museum yang dibuka Maret 1997 ini memiliki koleksi benda-benda yang kaya dengan unsur seni budaya.

Awalnya, museum yang pendiriannya diprakarsai Keluarga Haryono di bawah Yayasan Ulateng Blencong ini didedikasikan untuk melindungi dan menyelamatkan karya-karya batik kuno yang banyak diburu kolektor asing.

Selain mengoleksi benda yang berkaitan dengan batik, museum ini banyak menyimpan koleksi yang berhubungan dengan sejarah Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Koleksi yang bisa disaksikan antara lain foto-foto kuno bangsawan jawa, lukisan tiga dimensi karya Raden Saleh. Selain kaya akan koleksi benda bernilai tinggi, Ulen Sentallu juga memiliki arsitektur yang unik, sebagian besar bangunannya berada di bawah tanah.

Museum ini sering pula menyelenggarakan workshop yang berkaitan dengan seni budaya Mataram, karya lukis, arsitektur indis-jawa, wisata budaya, outbond, juga penyelenggaraan pameran.

Sebelum pulang, sebaiknya sempatkan untuk membeli buah tangan di kios-kios yang ada disekitar kawasan wisata ini, salah satu buah tangan terkenal adalah tempe bacem dan jadah (kudapan khas yang terbuat dari ketan dan parutan kelapa).

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Seni Rupa dan Keramik Selami Sejarah Seni Rupa Indonesia

Museum Seni Rupa dan Keramik Selami Sejarah Seni Rupa Indonesia

Bangunan kuno bergaya Yunani dengan deretan pilar besar bercat putih, berdiri kokoh menyambut pengunjung yang bertandang. Inilah suasana Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, bukan salah satu gedung di Eropa.

Sejak Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mencanangkan tahun 2010 menjadi Tahun Kunjung Museum, antusias masyarakat mulai terlihat. Menjelang akhir pekan, cukup banyak masyarakat yang menghabiskan waktu berkeliling Kota Tua. Termasuk mengunjungi Museum Seni Rupa dan Keramik. Kumpulan pelajar, orang dewasa, hingga wisatawan asing pun berkunjung di sini, untuk melihat aneka benda bersejarah.

Di awal berdiri, pada 1870, museum yang berlokasi di Jalan Pos Kota No. 2, Jakarta Barat ini, merupakan Kantor Dewan Kehakiman dalam kawasan Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia).

Kemudian, dari 1973 hingga 1976, gedung itu digunakan untuk Kantor Walikota Jakarta Barat dan kemudian diresmikan Presiden Soeharto sebagai Balai Seni Rupa Jakarta. Hingga akhirnya, pada 1990 bangunan ini digunakan sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.

Banyak hal menarik yang bisa ditemukan di sini. Museum ini memiliki sekitar 500 karya seni rupa seperti, keramik, lukisan karya pelukis termashur, Raden Saleh dan pelukis ternama lainnya, serta ukiran kayu dari berbagai daerah di Indonesia.

Pertama kali menginjakkan kaki di sini, pengunjung bisa memasuki ruangan pamer berbagai benda keramik yang diambil dari sejumlah kapal karam dari berbagai bangsa yang tenggelam di perairan Indonesia. Dari benda-benda yang dibawa kapal-kapal ini, bisa diketahui apa saja komoditas yang diperdagangkan pada saat itu. Jalur-jalur mana saja yang dilewati, dan periode kapal itu melintas di Nusantara. Bisa diketahui pula adanya jaringan perdagangan yang terjalin di Asia pada abad ke-9 sampai abad ke-10.

Di ruang berikutnya, ada sebuah tangga besi bergaya arsitektur Eropa dengan ukiran yang sangat indah berdiri menjulang. Di tengah ruangan, terdapat penjelasan tentang situs Intan Shipwreck, kapal tenggelam yang menyimpan ratusan artefak.

Setelah selesai berkeliling di lantai satu, pengunjung bisa menuju ke lantai atas, di sana terdapat ruangan yang menyimpan berbagai koleksi keramik dari Cina, Jepang, Arab, dan Eropa. Koleksi ini berupa piring-piring dan alat makan dengan hiasan pola tertentu yang menandakan periode pembuatannya.

Lalu, beranjak ke belakang museum, ada ruang dengan koridor panjang yang menyimpan ratusan jenis lukisan, mulai dari pelukis legendaris, Raden Saleh, Abdullah, Affandi, sampai pelukis ternama lainnya.

Disamping segala macam karya seni tersebut, museum ini pun memiliki perpustakan yang memiliki buku-buku mengenai seni rupa. Menariknya lagi, di museum ini pengunjung bisa mengikuti pelatihan membuat gerabah, mulai dari teknik pinching, cetak, dan roda putar.

Museum ini buka setiap Selasa hingga Minggu, mulai pukul 09.00 sampai 15.00. Tiketnya relatif sangat murah, yaitu Rp 2.000 untuk orang dewasa dan Rp 600 untuk anak-anak. Jadi, pastikan Anda membawa kerabat berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik untuk menyelami sejarah seni rupa Indonesia.

Sumber: Majalah Travel Club