Mengenal Alam dengan Berwisata di Sulawesi

Mengenal Alam dengan Berwisata di Sulawesi

TAK ada habisnya membicarakan keindahan alam Indonesia. Begitu banyak tempat wisata menonjolkan sisi natural panorama tanah air yang memukau. Salah satunya objek wisata alam Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Keindahan alam yang terhampar di kawasannya dijamin mampu membuat pengunjung terpana, khususnya mereka yang mencintai wisata di alam bebas.

Lokasi taman berada pada dua wilayah kabupaten dan dua wilayah propinsi, yaitu Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara dan Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

Beberapa objek wisata yang tersedia di taman, diantaranya:

Habitat Maleo Keberadaan maleo (Macrocephalon maleo) merupakan aset berharga bagi nusantara maupun dunia. Objek wisata ini berpotensi mengalami pengembangan untuk kategori wisata minat khusus berupa bird watching. Hewan Maleo bisa dijumpai di dua lokasi, yaitu di Tambun dan di Muara Pusian.

Air Terjun Sungai Tumpah

Kawasannya merupakan habitat beragam jenis burung endemis. Saat menyusuri jalan menuju air terjun, pengunjung akan ditemani kicauan burung-burung khas Sulawesi. Nikmati pula Air Terjun Lombongo dengan tawaran panorama alam dan keindahan hutan yang hijau.

Puncak Bukit Linggua

Pengunjung bisa hiking ke puncak bukit Linggua. Dari puncak Bukit Lingga pengunjung bisa memandangi hamparan hijau kawasan taman nasional serta wilayah pemukiman warga sekitar. Pengunjung juga bisa melakukan aktivitas fotografi.

Pemandian Air Panas Lombongo

Sebagian besar pengunjung menghabiskan waktu mereka di pemandian air panas. Tiap tahunnya jumlah wisatawan meningkat. Pemandian dilelola oleh Pemerintah Kabupaten Bone Bolongo. Biasanya pengunjung berlanjut ke Sungai Boliohuto untuk berendam.

Objek wisata alam lain yang tidak boleh lupa dikunjungi adalah Gua Batu Berkapur yang memiliki keindahan stalaktit dan stalaknit. Taman nasional ini juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti penginapan, tempat makan, kafe, kolam renang air panas, dan ruang pertemuan untuk berdiskusi.

Selengkapnya bisa dilihat pada situs: http://boganinaniwartabone.dephut.go.id (*/X-13)

7 Tempat Wisata Andalan Kendal

7 Tempat Wisata Andalan Kendal

DARI sekian banyak tempat wisata di Indonesia, tujuh di antaranya ada di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Mulai dari pantai, air tejun, goa hingga wisata buatan bisa Anda kunjungi satu persatu. Seperti apa tempatnya ? Yuk kita mulai perjalanannya.

1. Air Terjun Curug Sewu

Tempat pertama yang harus Anda kunjungi adalah Air Terjun Curug Sewu. Air terjun ini memiliki 3 air tejun yang masing-masing tingginya adalah 45 meter, 15 meter dan 20 meter.

Di sekitarnya juga ada taman rekreasi, kebun binatang, panggung hiburan, kereta mini, jet coaster dan kolam renang. Air Terjun Curug Sewu terletak di Desa Curug Sewu, Kecamatan Patean, berjarak 40 km dari kota Kendal lewat Weleri atau Sukorejo.

2. Pantai Sendang Sikucing

Pantai Sendang Sikucing adalah tempat yang paling tepat untuk menyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Di pantai indah Kecamatan Rowosari ini telah ada rumah makan terapung, panggung terbuka, perahu tradisional dan becak air.

3. Pemandian Air Panas Gonoharjo

Objek wisata yang satu ini bisa Anda temukan di lereng Gunung Ungaran, sekitar 40 km dari kota Kendal, lewat kota Kaliwungu. Di sini ada beberapa sumber air panas yang memiliki latar belakang alam yang indah.

Berbagai fasilitas pun kini mulai dikembangkan. Kolam renang, kafetaria, taman bermain dan tempat air panas berbelerang adalah bagian dari Pemandian Air Panas Gonoharjo.

4. Goa Kiskendo

Sebelum masuk ke mulut goa yang curam, Anda akan menyusuri jalan berbatu. Di dalamnya terdapat goa-goa kecil seperti Goa Lawang, Goa Pertapaan, Goa Tulangan, Goa Kempul dan Goa Kampret. Untuk cekungan anak sungai dikenal dengan nama Kedung Jagan.

Goa Kiskendo terletak di Desa Trayu, Kecamatan Singorojo, 15 km ke arah selatan dari kota Kendal lewat kota Kaliwungu.

5. Pantai Jomblom

Tidak sulit menemukan tempat wisata di Kecamatan Cepiring ini. Ada banyak transportasi umum yang menuju ke Pantai Jomblom dan juga bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi sekitar 10 km dari Kota Kendal.

6. Perkebunan The Medini

Letaknya tidak jauh dari pemandian air panas Gonoharjo Limbangan dan perkebunan karet Merbuh, Getas Kecil di Kecamatan Singorojo atau perkebunan kopi Sukomangli Kecamatan Patean.

Tempat-tempat ini sering dikunjungi wisatawan mancanegara asal Jepang dan Belanda untuk bernostalgia. Areal perkebunan di Merbuh juga terdapat kawasan bumi perkemahan yang selalu ramai pada waktu liburan sekolah.

7. Wisata Buatan

Ada tiga lokasi wisaata Buatan di Kendal. Kolam Renang Tirto Arum di Jalan Soekarno Hatta, Kampung Jowo Sekatul Limbangan di Desa dan Argo Wisata Ngebruk di Desa Sidokumpul. (kendalkab.go.id/*/X-13)

Keindahan Tersembunyi di Gunungkidul

Keindahan Tersembunyi di Gunungkidul

Air Terjun Sri Gethuk — yogyes.com

MESKI dikenal sebagai wilayah kering dan tandus, Gunungkidul ternyata menyimpan keindahan air tejun di antara ngarai Sungai Oya yang dikelilingi sawah hijau. Air Terjun Sri Gethuk di Desa Wisata Bleberan, Yogyakarta, menjadi salah satu destinasi wisata yang sayang dilewatkan.

Bebatuan di bawah air terjun membentuk undak-undakan layaknya kolam renang mewah yang menambah keindahan panoramanya. Gemuruh aliran air terjun tak pernah berhenti di setiap musim. Berenang di sekitar air terjun menjadi hal yang tak boleh terlupakan.

Asal mula penamaan Air Terjun Sri Gethuk terbilang unik. Masyarakat setempat percaya bahwa air terjun tersebut merupakan tempat penyimpanan kethuk yang merupakan salah satu instrumen gamelan milik Jin Anggo Meduro. Konon, pada saat tertentu terdengar alunan suara gamelan dari arah air terjun.

Untuk menggapai lokasi air terjun bisa dilalui dengan dua cara, yaitu dengan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi sawah hijau dan pohon kelapa, atau menaiki rakit melawan arus Sungai Oya yang dikelilingi tebing-tebing karst di sisi kanan kiri sungai.

Harga untuk naik rakit sebesar Rp 5.000/orang (pulang pergi) dan pengunjung akan ditemani oleh seorang pemandu. Nikmati pula pemandangan indah selama perjalanan. Wisata ini dikelola sepenuhnya oleh masyarakat Desa Bleberan. (yogyes.com/*/X-13)

Air Terjun Sampuran Putih “Berlian” Di Tengah Hamparan Hutan

Air Terjun Sampuran Putih “Berlian” Di Tengah Hamparan Hutan

Nama objek wisata yang satu ini memang belum akrab di telinga para pecinta pesona alam. Keberadaan yang jauh ditengah hamparan hutan kaki gunung Bukit Barisan membuat “Berlian Alam” yang dikenal dengan sebutan Air Terjun sampuran Putih ini tak sesohor Air Terjun Dua Warna. Meski keduannya berada di kawasan yang sama, yakni kecamatan Sibolangit.

Untuk menjangkau lokasi wisata yang terletak di desa Cinta Rakyat ini, memerlukan waktu 2 jam dari pusat ibu kota Sumatera Utara, Medan. Aksesnyapun tidak terlalu sulit, karena infrastruktur terbilanag memadai sampai kita menginjakkan kaki di Sibolangit atau tepatnya simpang Basukum Kota Bandar Baru. jangan senang dulu, karena petualang belum berakhir, anda masih harus disuguhkan lagi perjalanan penuh tantangan sekitar 30 menitmenuju Desa Cinta Rakyat yang penuh liku, tanjakan dan kecuraman jalan von blok yang lebarnya hanya 2,5 meter.

Nah, sampailah kita di desa yang menawarkan keindahan “berlian alam” DesaCinta Rakyat. Desa ini menawarkan bermacam keunikan, seperti sungainya yangbercabang dua. cabang pertama berasal dari air pegunungan sibolangit yang dingin, sedangkan cabang sungai kedua berasal dari sumber air panas bumi di Desa Nageri Suah yang berarti desa negeri bawah. Sekarang, kita akan menelusuri sumber air panas sungai ini. Untuk itu, jalan setapak disela-selapohon-pohon besar yang masih berdiri kokoh harus ditelusuri sepanjang 300meter. Jangan khawatir, karena lelah anda akan terbayarkan dengan menyaksikan air terjun 7 tingkat yang hangat.

Penasaran dengan asal kehangatan air terjun yang dihimpit 2 bukit yangterjal ini, kami pun berusaha untuk menelusuri desa berikutnya untuk mencaritau hal tersebut. Jarak antara Desa Cinta Rakyat dan Desa Nageri Suah sejauh 5 km. Bagi yang ingin mencari tantangan wisatawan bisa melaluinya dengan jalan kaki, juga bisa dilalui dengan sepeda motor. Tapi jangan sekali-kali menggunakan mobil pribadi, karena jalan menuju lokasi ini benar-benar tidak bersahabat, Kecuali menggunakan kendaraan offroad. Karena kami mengendarai sepeda motor, sekali-kali sepeda motor yang kami tumpangi juga harus didorong.

Desa Nageri Suah yang hanya dihuni 15 Kepala Keluarag (KK) ini menawarkanlokasi yang berbeda, jika sampuran putih dikelilingi hutan, maka lokasi inijustru dikelilingi lembah. 20 meter sebelum sampai di sungai Desa Nageri Suah bau belerang pun menyengat ke atas permukaan. Sampai di lokasi sungai air panas pun mengalir dari hulu. Airnya terlihat putih pekat seperti airsusu, sesekali uap panas keluar dari sela-sela bebatuan. Menurut TomasTarigan, salah seorang penduduk setempat yang menjadi guide wisata kami kali ini, bagi yang punya penyakit kulit sangat cocok sekali mereka mandi di sungai itu, “lumayan bisa menyembuhkan penyakit kulit,” ujarnya. Anda tertarik mengunjungi lokasi ini, siapkan fisik dan perlengkapan berpetualang dan tetap berhati-hati. (DNA I R-05)

Sumber: DNA Berita

Air Terjun Cibeureum Mempercantik Diri, Meramahkan Alam

Air Terjun Cibeureum Mempercantik Diri, Meramahkan Alam

Pelataran Parkir Cibodas – Gunung Pangrango indah berdiri di pagi hari, di pelataran Cibodas.

Berdentam-dentam rasanya hati bila melihat air terjun ini. Semburat air bertenaga, jatuh menerpa serombongan batu di bawahnya. Sekejap terselip takut, saat kita tepat berada di bawah air jatuhnya. Namun, bulir-bulir embun air yang terbawa angin ke mana saja, seperti memberitakan persahabatan sejati. Aku, sang air terjun perkasa, akan selalu menerima.
Itu makna yang kembali tersirat, saat kaki berkesempatan kembali mengempaskan jejaknya disana minggu lalu. Di lokasi yang terletak di kaki gunung Gede– Pangrango ini, kembali teringat betapa hingga sepuluh tahun terakhir ini tak banyak yang berubah di sana.
Pembukaan jalur masih harus melewati deretan pohon hijau. Meniti undakan-undakan bersahabat. Menikmati segar udara hasil fotosintesa, yang kualitasnya amat jauh berbeda ketika berada di perkotaan. Napaspun masih agak tersengal sedikit. Sekadar mengingatkan bahwa kita berada di kawasan konservasi, yang telah berumur ratusan tahun sekarang. Hingga akhirnya mata ini melihat kembali telaga biru. Lengkap dengan aliran air bersih yang mengalir disebelahnya. Tak banyak yang berubah.
Namun seperti layaknya juga arus globalisasi yang menerpa sekian banyak orang dinegeri ini. Bohong, kalau kita tak perlu berubah untuk menawar hidup bersama alam. Benar saja, tepat setelah telaga biru kini berdiri kukuh kirai jembatan panjang. “Untuk memudahkan wisatawan mencapai daerah air terjun Cibeureum,” ucap seorang penjaga taman nasional yang kebetulan berpapasan.
Kini jalan rawa, tepat sebelum pos Panyangcangan, telah dibuatkan jembatan kayu. Lebih horizontal, ketimbang berlelah mendaki. Ini lebih bersahabat, ketimbang mengotori kaki, karena rembesan rawa yang seingat saya memang kadang mengganggu dibawahnya. Terlihat lebih cantik dan rapi, bersahabat karena memudahkan.
Hal serupa juga kemudian ditemui, ketika makin mendekati air terjun paska pos Panyangcangan. Deretan kayu-kayu yang tersusun rapih, seperti menjadi pintu gerbang. Menuju suasana alam, air terjun “Merah” yang terdengar mengelegak di atas sana.
Di Cibeureum, kini juga terlihat beberapa bangunan baru menghias.
Sebuah altar kayu, berdiri tepat diatas aliran sungai Cikundul. Ada juga sebuah bangunan mirip altar namun lengkap dengan atapnya juga menghias kini. Membuat kita lebih nyaman menikmati alam, tanpa harus kegerahan.
Tempat wisata alam ini tampak dibuat lebih bersahabat kini. Menjauhkan orang-orang dari bayangan sulit menikmatinya. Membuat makin dekat alam, dengan banyak orang. Yang berarti makin banyak orang yang berkesempatan mengenali alamnya. Dan memutuskan mencintanya.

Menuju Lokasi Cibeureum

Tak perlu berdenyut saat kita memutuskan untuk menyambangi air terjun ini. Bila memulai perjalanan dari Jakarta, arahkan saja laju kendaraan menuju kawasan Puncak. Tiba di persimpangan Cibodas, masuklah ke arah daerah Taman Nasional. Parkir kendaraan di pelataran parkir, yang teramat luas di area desa Rarahan, dan kita bisa memulai perjalanan dengan berjalan kaki.
Bila memulai perjalanan dari Bandung. Arahkan mobil anda ke daerah Cianjur. Terus menuju area Puncak. Tiba di simpang Cibodas, setelah Cipanas, lakukan hal serupa seperti yang diungkapkan sebelumnya.

Aula Hijau – Bangunan berbentuk aula terbuka juga kini dibuat untuk menambah nyaman wisatawan yang mengunjungi.

Jangan lupa melapor dulu ke pos PHPA Taman Nasional Gede – Pangrango yang berada di dekat pelataran parkir. Bayar karcis tanda masuk, dan silahkan menikmati indahnya alam. (slg)

Naskah dan Foto: Sulung Prasetyo (Sinar Harapan)